Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Gus Dur dan Manhaj Islam Nusantara Untuk Studi Poskolonial


Oleh Nida Rohmi

Abdurrahman wahid atau yang sering dikenal dengan panggilan “Gus Dur” merupakan salah satu tokoh nasional yang sangat populer dari dahulu hingga sekarang. Mengapa demikian?. Beliau dengan semua pemikirannya yang luas tidak hanya dikenal baik oleh orang-orang sekitarnya, terutama dari kalangan pesantren.

Gus Dur adalah sosok yang dikenal sebagai bapak pluralisme, karena usahanya dalam mengeratkan hubungan antar sesama umat beragama. Ini terbukti dengan eratnya persahabatan dengan pendeta, pastor dan tokoh umat beragama lainnya, seperti Budha, Hindu serta Kong Hu Cu. Selain dikenal sebagai bapak pluralisme.

Gus Dur juga dikenal sebagai bapak demokrasi, pejuang toleransi, islam moderat, cinta damai, anti kekerasan baik dalam beragama, berbangsa dan bernegara. Oleh karena itu putra dari K.H Wahid Hasyim dan cucu dari K.H Hasyim Asy’ari ini dikenal baik oleh semua kalangan, karena dengan pembelajaran dan gagasan yang disampaikannya melalui kisah-kisah menarik dan disertai canda tawa.

Dengan kiprahnya yang seperti inilah yang membuat semua orang mengenang baik sosoknya hingga hari ini.

Di lingkungan pesantren, Gus Dur adalah sosok yang mengenalkan bermazhab secara manhaji. Yang menurutnya adalah bermazhab dengan tidak hanya menggunakan aqwalul mazhabi (pendapat-pendapat dari mazhab), melainkan berpikir secara metodologis yang disetujui oleh mazhab tersebut.

Jadi tidak hanya mengambil hukum dari pendapat mazhab tapi juga menggunakan jalan pikiran dan kaidah bagaimana penetapan hukum tersebut diambil yang sebelumnya sudah ditetapkan oleh imam- imam mazhab. Hal ini dilakukan bertujuan untuk memecahkan masalah-masalah yang ada di masyarakat itu sendiri.

Menurut Gus Dur cara berpikir seperti ini dapat dilihat dari warga pesantren itu sendiri. Dari sini kita akan mengenal islam dengan tidak hanya sebagaimana yang diteorikan. Tapi juga dengan islam yang sebagaimana dipraktikkan dan akan berkembang sesuai dengan dinamika dan gerak hidup masyarakat.

Hal ini seperti bagaimana hukumnya seseorang mengucapkan selamat natal atau selamat ulang tahun. Yang sebetulnya tidak perlu diperpanjang hingga timbul kegelisahan pada umat Islam sendiri. Cukup sampai mengapa larangan tersebut diambil.

Dan jika larangan tersebut tidak masuk akal dalam artian mengucapkan hanya karena hadis yang berisi tentang “Barang siapa menyerupai suatu kaum maka ia termasuk golongan tersebut”. Hal tersebut tidak bisa dijadikan dasar pengambilan hukum.

Tidak wajar jika hanya mengucapkan selamat natal sampai dianggap tidak islam lagi. Selama dalam pengucapan tersebut tidak sungguh-sungguh yang sampai mengusik keimanan orang Islam tersebut.

Pemikiran Gus Dur yang seperti ini adalah upaya dalam menetapkan hukum sesorang tersebut terlibat langsung dengan sadar apa yang ada di masa kini. Jadi tidak hanya menjadi masa lalu, tapi juga sebagai pelajaran dan salah satu upaya mengembalikan subyektifitas kepesantrenan di masa kini.

Selain itu Gus Dur juga ingin menunjukan bagaimana orang-orang khususnya kalangan pesantren mempunyai suara di muka umum dalam menentukan kebijakan berdasarkan tradisi-tradisi yang sudah ada sejak dahulu.

Layaknya orang yang menerjemahkan dua sisi, yakni bagaimana dunia luar itu bermakna di dunia pesantren tapi juga bagaimana orang pesantren memaknai dunia luar itu sendiri. Seperti dalam tulisannya “Hidup di dunia sangatlah penting kalau dijadikan persiapan untuk kebahagian akhirat dan akan kehilangan jika tidak diperlakukan seperti itu”.

Makna singkatnya seperti hadis “Dunia adalah ladang untuk kehidupan di akhiarat”.

Di zaman yang serba instan, perbedaan sering dianggap suatu yang aneh. Apalagi terkait dengan perbedaan pendapat, sampai timbulnya permusuhan dari kalangan sendiri maupun dari berbagai pihak. Padahal dikalangan pesantren sendiri sudah tidak asing lagi dengan ungkapan bahwa perbedaan pendapat itu adalah rahmat.

Gus Dur dengan segala perjuangnya dalam merentas perbedaan yang salah satunya dengan cara tidak memakai simbol- simbol tertentu yang memberikan kesan mengecilkan kelompok lain yang minoritas. Ini karena keinginannya yang mendambakan kehidupan beragama yang ramah, damai, dan tentram.

Seperti ungkapannya di dalam buku tuhan tidak perlu dibela bahwa ia tidak menginginkan udara kehidupan ini tercemar oleh larangan-larangan instan yang diambil secara sepihak dan berawal dari sesuatu yang sepele. Ia lebih suka bertindak dengan bijak dan adil di dalam hidupnya terutama membela hak yang tertindas maupun yang minoritas.

Apa yang dilakukan oleh sang teladan guru bangsa ini sudah sangat sesuai dengan motto di negeranya yakni Bhineka Tunggal Ika yang terdiri dari berbagai pulau, suku bangsa, tradisi dan agama.

Yang seharusnya bersatu dan meninggalkan segala keegoisan pribadi maupun golongan. Di dalam agama Islam sendiri sudah sangat jelas dalam mengajarkan sikap menghormati dan menghargai di atas segala perbedaan. Baik dari Al-Qur’an maupun sunnah-sunnah Nabi. Tapi kebanyakan orang lupa atau pura-pura lupa dengan apa yang telah diajarkan oleh Allah dan Rasulnya.

Dari sini perlunya kesadaran bagi setiap pribadi dalam menyikapi persoalan yang ada. Di zaman sekarang sering kita jumpai ungkapan “budaya kafir” karena menganggap sebuah kebudayaan dinilai bertentangan atau sesuatu yang dilarang oleh agama.

Padahal ungkapan ini hanya karena mereka memahami dalil cepat saji dari media sosial dan lingkungan sekitarnya.

Itulah sedikit dari banyakknya pemikiran Gus Dur yang luas. Layaknya ungkapan bahwa Al-Qur’an bagaikan permata yang keindahanya dapat dinikmati dari sisi manapun. Begitu juga Gus Dur yang dari segala aspek memiliki daya tarik sendiri untuk dipahami dan dipelajari.

Berkaitan dengan ungkapan Gus Dur adalah teladan guru bangsa, ya memang sudah sepatutnya disematkan kepada sosoknya. Mengingat atas segala konstribusi keilmuan yang telah ia berikan untuk negeri ini.

Sumber Bacaan
Ahmad Baso, Islam Nusantara

Post a Comment for "Gus Dur dan Manhaj Islam Nusantara Untuk Studi Poskolonial"