Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Cahaya Keberkahan Mbah Arwani Di Pulau Dewata Kisah Tentang Kiai Noor Hadi

Sumber Gambar Aswaja Dewata
Di tengah hingar-bingar Bali dengan berbagai pesonanya. Terdapat pondok Pesantren Tahfidz yang sudah lama berdiri, pondok tersebut diasuh oleh KH. Noor Hadi Al Hafidz, salah satu murid santri ndalemnya KH. Arwani Kudus, salah satu tokoh penjaga Alquran di Nusantara. Konon, hal tersebut adalah cahaya keberkahan Mbah Arwani di Pulau Dewata Bali.

Meskipun di tempat yang mayoritas Non Muslim, pondok tersebut perkembangannya semakin pesat, bermula dari langgar, sepetak kamar asrama dan sekarang memiliki lembaga pendidikan berbasis pondok mulai Paud hingga Perguruan Tinggi.

Pendiri sekaligus pengasuhnya adalah KH. Noor Hadi. Beliau lama nyantri sekaligus menjadi abdi ndalem Mbah Arwani Kudus.

"Saya mondok di kudus mulai 1966, sangking lamanya sampai Yai lupa, kalau saya itu santri" ungkap beliau.

Suatu hari beliau didawuhi sama Mbah Arwani:, "Nur, Aku duwe omah Apik, Yo pondok iku. Njalukko sanad neng pengurus terus pamit. Saiki Gaweho omah dewe yo, tapi neng Bali. Iki kanggo sangu, engko bakal dicukupi pengeran. Pondokmu tak jenengno Roudlotul Huffadz, lirkadiyo wangine koyok Roudlotul Jannah",

(Nur, saya punya rumah bagus. Ya pesantren itu. Mintalah sanad Quran kepada pengurus lalu pamit. Sekarang kamu buatlah rumah sendiri tapi di kota Bali. Ini saya beri uang untuk bekal, nanti akan dicukupi oleh Allah. Pondokmu nanti saya namakan Roudhatul Huffadz, supaya nanti harumnya seperti Raudlatul Jannah)

Sambil matanya berkaca-kaca beliau melanjutnya ceritanya.

Akhirnya KH Nur Hadi memutuskan merantau ke daerah Tabanan Bali.

Alangkahnya kagetnya beliau, ternyata di Bali untuk membuat mushola 3x3 meter saja, harus meminta ijin gubernur dan harus disertai 100 tanda tanga warga sekitar, itupun kalau tidak menyalahi aturan adat.

Belum lagi harga tanahnya yang selangit. Yakni 10 meter saja mencapai 2 Milyar. Apalagi untuk membangun Masjid dan Pondok.

"Kulo namung saget nangis lan wadul kalih mbah Arwani, nanging boten wantun matur langsung, jadi namung lewat do'a bakdo qiyam lail", tangkasnya.

(Saya hanya bisa menangis dan mengadu sama Mbah Arwani, tapi saya tidak berani bilang secara langsung, jadi hanya lewat doa-doa setelah qiyamul lail)

Tapi anehnya, keesokkan harinya ada orang datang, mengaku utusan dari Kudus dan menawarkan sejumlah uang yang sama persis jumlahnya untuk beli tanah itu.

"Masyallah dibayar lunas kalih Mbah Arwani, padahal saya tidak berani matur langsung". Imbuh beliau.

(Masyaallah, dibayar lunas sama Mbah Arwani, padahal saya tidak berani bilang secara langsung)

Sampai sekarang, jika beliau mendapati kesulitan apapun selalu mengadu pada Mbah Arwani.

"Kulo yakin Mbah arwani teseh gesang, teseh saget rawuh. Kulo boten nate melanggar perintah guru, selami hidup, nopo malih nku Mbah arwani". Tambahnya.

(Saya yakin, Mbah Arwani itu masih hidup, masih bisa hadir. Saya tidak pernah melanggar perintah guru selama hidup, apalagi dengan Mbah Arwani)

Suatu ketika KH Nur Hadi mencoba mencari tambahan penghasilan dengan berjualan di pasar bersama isteri. 

Padahal semasa hidup Mbah Arwani berpesan, "Le...mbesuk ojo dodolan neng pasar". (Nak, besok tidak perlu jualan di pasar)

Akhirnya sepulang dari pasar, semua orang yang dilihat beliau sepanjang jalan ternyata sangat mirip dengan wajah Mbah Arwani.

"Menawi kulo diemotke", katanya.

(Barangkali saya diingatkan)

"Kulo nate boten pecinan, tindakan ke suatu acara. Seketika Mbah Arwani Rawuh, Le,,, nek sirahe rak dipecini ngalamat Qur'ane ilang" 
(Saya pernah tidak memakai peci ketika pergi ke sebuah acara. Seketika Mbah Arwani ada di situ lalu mengingatkan saya, "Nak, kalau kepalanya tidak ditutupi peci, nanti hafalan Qurannya bisa hilang lho)

Akhirnya kemanapun beliau pergi pasti pecinan, sampai bertemu presiden sekalipun.

"Kulo sampun ketemu kalih sedanten presiden mulai pak Harto sampai pak Jokowi. Cuma satu presiden yang menolak saya temui, yaitu Gus Dur".

(Saya pernah bertemu dengan semua presiden mulai dari Pak Harto hingga Pak Jokowi. Hanya satu presiden yang menolak untuk saya temui, yaitu Gus Dur)

Saat saya kesana malah gus dur marah, "Lapo kuwe rene Nur, ngurusi pondokmu ae... Negoro tak urusane aku.. "

(Kamu ngapain ke sini, Nur. Ngurusi pondok saya, Negara biar saya yang mengurusnya)

Spontan KH Noor Hadi pun berbalik tanya, "Lho kok jenengan perso nek kulo, Gus, padahal kulo dereng matur Nopo-nopo" 

(Lah kok, anda tahu kalau saya, Gus? Padahal kan saya belum bilang apa-apa?)

"Yo ambune wes ketoro nek kuwe Nur, wes muliho wiridan neng pondokmu dewe" Kata beliau menceritakan tentang Gus dur.

(Ya, baunya itu sudah tercium kalau kamu, Nur. Sudah pulang sana wiridan di pondokmu saja)

Salain itu, beliau juga sempat dikucilkan oleh pemerintah setempat. Gara-gara melarang santri untuk mengikuti MTQ.

"Kulo kedah nderek wasiat dawuhnya guru kulo Mbh Arwani, daripada mboten didaku satrine dunia akhirat", imbuh Rois Syuriah PWNU provinsi Bali itu.

(Saya harus mengikuti wasiat guru saya, Mbah Arwani. Daripada nanti saya tidak diakui sebagai santrinya beliau di dunia hingga akhirat)

Tantangan di Bali juga dalam hal sihir ataupun santet.

"Dalam mimpi kulo, Mbah Arwani nyapu teng ngajeng Pondok, tapi yang dibersihkan ada paku, beling dan batu yang tajam. Tak resik ane Le..... Ojo lali ambi dongane.... " tambah beliau.

(Di dalam mimpi, saya melihat Mbah Arwani nyapu di depan pondok, tapi yang dibersihkan adalah paku, pecahan kaca dan batu tajam. Lalu beliau berkata "Saya bersihkan ya, Nak. Jangan lupa dengan doanya".)

"Kulo ngestoaken dawuh yai. Sampek sakniki Kulo nek bten nderes langsung dipun dangu mbh arwani.. Le, nderes. ...."
(Saya betul-betul melaksanakan perintah guru. Hingga hari ini, kalau saya tidak mendaras Alquran, seketika diingatkan oleh Mbah Arwani, "Le, nderes")

Sekarang masjid di Tabanan merupakan salah satu masjid yang diperbolehkan adzan dengan mikrofon. Pondok yang mempunyai madrasah sampai Univertas. 

Semula hanya 10 anggota keluarga, sekarang kawasannya ramai dan mayoritas muslim.

"Sedanten niku barokahnya mbh Arwani, kulo sambatnya ke beliau walau pun sedo, Kulo ngrasa jahil, tapi yai ingkang dawuhi kulo lampahi".
(Semua ini adalah berkahnya Mbah Arwani, saya kalau mengeluh ke beliau meskipun sudah meninggal, saya merasa bodoh, tapi apapun yang diperintah Mbah Arwani saya laksanakan)

Selain itu, ternyata yang mengawali adanya ziarah wali 7 di Bali adalah KH Nur Hadi.

"Daripada datang ke Bali hanya untuk berlibur, kulo berusaha mengimbangi dengan hal positif. Kulo mengumpulkan 7 makam orang sholih, kersane di ziarohi. Tapi kulo boten ngarani niku wali. Soale ingkang ngertos wali kan wali pyambak, lha kulo boten wali ngeh boten ngertos... Tapi sakniki saget syiar" tambah pengasuh pondok tersebut.

(Daripada datang ke Bali hanya untuk berlibur, saya berusaha untuk mengimbangi dengan hal positif. Saya mengumpulkan 7 makam orang salih biar diziarahi. Tapi saya tidak menilai itu adalah wali. Karena yang tahu wali kan hanya wali, lah saya itu bukan wali ya jadi tidak tahu. Sekarang sudah syiar)

"Estu le, nderekke gurumu. Boten usah mamang, pengeran bakal nyukupi, nulung..." Tutup Beliau

(Serius ini, Nak. Patuhilah gurumu. Tidak perlu ragu. Allah yang akan mencukupi dan menolong kita)

Post a Comment for "Cahaya Keberkahan Mbah Arwani Di Pulau Dewata Kisah Tentang Kiai Noor Hadi"