Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Agama NU? Tiga Peranan NU dalam Menjaga Keutuhan Islam dan NKRI

Penulis: Lia Darmiyati

Apa itu Agama NU? 

Agama NU tidak dimakanai serta merta agama dalam definisi konvensional, namun lebih menekankan pentingnya NU untuk masa depan bangsa ini, karakter populisme dan kebangsaan yang ditunjukan Nahdlotul Ulama (NU) sejak tahun 1926 digunakan untuk menghadapi banyaknya masalah-masalah yang ada di Negara ini Indonesia.

Di antara masalah-masalah yang dihadapi NU sejak era orde lama agar Indonesia tetap berdiri dan tegak serta tetap ber bhineka tunggal ika sampai era reformasi sekarang yaitu Kolonialisme Belanda, Pan-Islamisme, gerakan Wahabisasi, politik Nasakom, kelompok-kelompok separatis (DI/TII, PRRI/PERMESTA, gerombolan Kahar Muzakkar), kelompok Amrozi-Imam Samudra hingga rezim IMF-WTO-Bank Dunia – semuanya dihadapi Nahdlatul Ulama, dengan kekuatan pilar jamaah dan Jam’iyah-nya, dengan aneka strategi dan corak ragam siyasah-siyasahnya. 

Dan, kenyataanya, NU tetap eksis dan langgeng. Apa rahasia kesaktiannya? Populisme dan Kebangsaan. Dalam bahasa pesantrennya yaitu As-sawadu-l-a’zham. Dalam Bahasa Rakyat kita yaitu “AGAMA NU”.

Berikut adalah peran-peran NU dalam menjaga keutuhan Islam sekaligus NKRI :

NU sebagai rahmatan lil ‘alamin di Indonesia
Disini “agama NU” diartikan rakyat kita sebagai agamanya orang-orang NU, agamanya para ulama NU. Ketika disebut bahwa rakyat kita menganut “agama NU”, maka itu berarti mereka mengikuti yang terbaik dari tradisi para ulama dan orang-orang NU.

Pada NU mereka melihat agama para ulama, sekaligus agama rakyat. Mereka melihat harapan baru untuk merawat tradisi mereka-dengan berguru setiap hari kepada kiai-ulama minimal belajar doa-doa atau jimat keselamatan dunia-akhirat. Mereka juga melihat pada “agama NU” cara menggerakkan tradisi rakyat sebagai kekuatan bersama menghadapi tantangan serta untuk mewujud kemaslahatan bagi orang-orang desa. 

NU pilar kelima Bangsa: Akar kebersamaan Rakyat dan Solidaritas Berbangsa- Dunia Akhirat
Di masa- masa banyak warga Negara kita jadi korban dalam berbagai bencana di Tanah Air seperti tahun sebelumnya, saat itulah "Agama NU" dibutuhkan. 

Sejumlah warga kita diluar negeri beramai-ramai menggelar tahlilan kepada segenap keluarga, handai tolan dan sahabat yang meninggal dalam bencana tersebut.

NU menjadi Kritik Ideologi (Manhaj Fiqih dan Suara-Suara Rakyat)
Pesantren mengabdikan keilmuannya untuk pengembangan masyarakat pedesaan baik menyangkut pendidikan, ekonomi kerakyatan, kesehatan, hingga nasib masa depan mereka. Singkatnya, keilmuan mereka bukanlah ditengah masyarakat akademik, tetapi dikalangan elit pengetahuan. 

Kerja-kerja intelektual tersebut digunakan untuk menerjemahkan segenap pemikiran, pandangan, dan tindakan-tindakan rakyat kedalam bahasa manhaji, kedalam bahasa paradigma ilmu sosial atau kedalam bahasa fiqih.

Hal itulah yang dibutuhkan masyarakat dan para kiai menetapkan fiqih sebagai pilihan untuk dijadikan jembatan menuju pengembangan masyarakat, dan menjadi kekuatan tradisi yang dimiliki orang-orang NU. 

Fiqih sebagaimana yang dipahami dan diistifadah oleh kalangan Nahdiyin- pertama-tama diposisikan untuk kepentingan kritik tentang kezaliman dan juga sebagai pembebasan dari dominasi dan ekploitasi kekuatan-kekuatan luar. 

Proses istifadah juga mampu mereka menemukan jawaban dari sosial atas sekian persoalan-persoalan aktual(waqa’I wa hawadits) yang dihadapi bangsa ini. Dan menjadi kekuatan tradisi NU, bias dilihat dari para ulama kebanyakan adalah ulama fiqih atau fuqaha. Bukan ilmu tafsir juga bukan ahli kalam atau filsuf. Bukan pula Nahdatul Ulama dan paham keagamaan Ahlussunnah Waljamaah.

Sumber BacaanAhmad Baso, AGAMA NU UNTUK NKRI (JAKARTA : Pustaka Afid, 2013)

Post a Comment for "Agama NU? Tiga Peranan NU dalam Menjaga Keutuhan Islam dan NKRI"