Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Peran Gus Dur Sebagai Pembaharu Pesantren


Penulis: Norma Fadhilah

Jati diri Gus Dur di dalam pesantren yaitu sebagai “pembaru dari pesantren” bukan sebagai “pembaru bagi pesantren”. Yang mana Gus Dur mempunyai penerjemah ganda atau peran ganda yaitu, pertama, memposisikan sebagai penerjemah wacana kepesantrenan ke dalam konteks kebangsaan dan kosmopolitanisme. 

Kedua, di satu sisi juga sebagai penerjemah wacana kebangsaan global ke dalam konteks kepesantrenan. Kekuatan wacana Gus Dur yang dipakai adalah pada strategi-strategi dalam perjumpaan peran ganda Gus Dur yang beliau pakai dalam tulisan-tulisannya. 

Yakni seperti strategi menghadapkan dunia pesantren sebagai subkultur(dalam rangkaian narasi\kisah-kisah kiyai), dengan dunia luar maupun dengan modernitas(seperti tulisan beliau tentang antropologi kiai).

Beliau dalam memposisikan dirinya sebagai penerjemah ganda yaitu inngin melihat disatu sisi sejauh mana dunia luar itu bermakna bagi dunia pesantren dan juga bagaimana cara orang pesantren memaknai dunnia luar. 

Selain itu, yang diinginkan Gus Dur adalah bagaimana orang-orang pesantren bisa menyikapi realitas dari cara mereka sendiri, dari sudut pandangan mereka sendiri, dan dari jurusan epistemologi. 

Kemudian beliau ingin mengajak warga pesantren dengan cara bermadzhab secara aqwali maupun manhaji, yang mana dinamakan bermazdhab itu bukanlah menggunakan aqwalul mazdhahib (pendapat-pendapat dari mazdhab), melainkan berfikir secara metodologis yang disetujui mazdhab tersebut. 

Gagasan bermazdhab seperti ini, dikenal dengan sebutan manhaji atau metodologis, bagaikan bergulirnya bak bola salju, dengan seiringnya dan meluasnya upaya mengkontekstualitalisasikan kandungan kitab kuning.

Cara bermazdhab yang ditunjukkan Gus Dur yaitu dengan memandang realitas secara manhaji, manhajinya mengharuskan mereka hidup rapat dengan realitas. Dengan cara ini Gus Dur merebut pengertian perubahan dan pembaruan, dan menjinakkanya sesuai dengan kepentingan dan kebutuhan orang-orang pesantren. 

Yakni, bagaimana ia mengakarkan pembaruan dan perubahan itu pada sebuat tempat\lokalitas. Sehingga yang muncul adalah sebuah arsitektur baru kebudayaan, tidak lagi arkaik kuno, karena pesantren sudah menjadi bagian dari sebuah gerakan antar komunitas maupun antar berbagai segmen kebangsaan. 

Di sini kita betul-betul diperlihatkan sebua makna beragama yang mana secara membumi, dan berakar di dalam kehidupan masyarakat. Kemudian Gus Dur mengungkapkan kehidupan beragama kaum pesantren sehari-hari dengan menggunakan pendekatan etnografi. 

Alhasil menjadikan Islam yang mana dipraktikkan yang melekat pada darah daging manusia, dan berkembang sesuai dengan dinamika kehidupan masyarakat, bukan sebagaimana Islam yang hanya diteorikan.

Satu contoh yang bisa diambil dari Gus Dur ketika mempertahankan pandangan keagamaan kaum pesantren tentang pennetuan awal Ramadhan maupun awal Syawal berdasarkan ru’yah hilal, bukan dengan hisab. 

Gus Dur melawan asumsi yang sering dikatakan bahwa “hisab lebih maju dan sesuai dengan perkembangan sains dan teknologi, sedangkan ru’yah dianggap kemunduran dan kejumudan”. Menurut beliau, mayoritas ulama juga mengandalkan ru’yah bil fi’li (melihat bulan dengan mata kepala), sedangkan Hisab menurut mereka bermakna hanya untuk mengukuhkan ru’yah bil fi’li, juga bukan sebaliknya. 

Menurut pandangan ulama, ru’yah adalah fa’il(penentu), sedangkan hisab hanyalah petunjuk jalan, sebagai alat\maf’ul. Jadi, ru’yah membantu kalangan tradisi untuk melihat dunia dari dekat, dengan pandangan mata dam pendekatan yang menusiawi. Karena yang inderawi(hissi) adalah sesuatu yang manusiawi.

Demikian pula halnya dengan soal ru’yah ini yang mana didalam tradisi NU adalah persoalan manhaji, dan bukan soal aqwali semata, karena ini menyangkut segenap bangunan tradisi berfiqih dalah mazdhab Syafi’I, dalam berbagai aspeknya. 

Seperti diungkap diatas, fiqih bukan Cuma perkara halal-haram, tapi juga soal etika dan moralitas(akhlaqi) yang selalu muncul dari bawah. Oleh karena itu, para fuqaha’ dan ulama selalu menekankan aspek fiqih yang senantiasa bergerak dinamis mengikuti perkembangan masyarakat, menurut Bahasa pesantrennya tathawwuriyan manhajiyan wa ijtima’iyan

Maka itu pula pentingnya tejdid debagai mesin penggerak roda tradisi fiqih, sebagaimana yang dilakukan para ulama dulu. Karena tajdid bertujuan untuk mengakarkan fiqih dalam masyarakat. Juga untuk menampilkan sebagai suara moralitas masyarakat. Manhaji ini strategis, karena mendekatkan kerja-kerja intelektual dan fikriyah ke dalam komunitasnya, mendampingi mereka, dan juga membela segenap kepentingan mereka.

Jadi manhaji ini berorientasi populis, yakni bagaimana segenap ramuan metodologis dalam tradisi lahir dari bawah, dan juga berinteraksi dengan masyarakat. Tradisi identik dengan sesuatu yang dinamis, karena persentuhannya dengan dinamika sosial masyarakat dan membantu merespons kebutuhn masyarakat yang senantiasa berubah dan berkembang. 

Cara metodologis itu membantu mengakarkan tradisi sebagai sesuatu yang merakyat, sebagai suara dari masyarakat. Dari akar-akar kemasyarakatn seperti inilah, posisi tradisi dalam pandangan komunitas pesantren jelas adalah sebuah fa’il, sebuah jendela, sebuah tajdid. 

Dalam sudut pandangan Gus Dur, aspek manhajinya inilah yang harus di garis bawahi. Karena, aspek manhajinya ini mencerminkan segenap bangunaan fiqih dan juga tradisi sebagai sesuatu yang ma’rifati, akhlaqi, dan juga populis.

Gus Dur juga menggunakan teknik inventory yang mana ingin merebut kembali Subyektifitas(yakni sebagia manusia yang mempunyai darah daging, perasaan, sejarah, dan intelektualitas, serta ikatan personal dengan tanah airnya, sejarah, lingkungan maupun komunitasnya) yang telah diambil dari kalangan Orientalis. 

Gus Dur juga ingin mengingatkan generasi muda pesantren sekarang ini, dengan mengoreksi pemahaman mereka bahwa pikiran orang-orang pesantren hanyalah ibarat tabula rasa(kertasa kosong), yang bisa diisi apa saja. 

Mereka keliru kalau menganggapnya hampa dari pengalaman sejarah dengan bangsa dalam konteks penjajahan, yang mana mereka lupa\amnesia kolektif(serba lupa dan cuek)terhadap pencapaian-pencapaian historis dan kultural dari orang-orang pesantren, terutama pencapaian-pencapaian mereka dalam merumuskan ideologi-ideologi dan kerangka piker dalam membaca situasi kolonial maupun pasca kolonial.

Jadi strategi Gus Dur dalam membnagun kepekaan dengan kekinian(al-mu’asharah), yakni dengan menggali kembali sebuah tradisi, satu memori di masa lalu, untuk menjaga daya tahan sebuah komunitas di masa kini. 

Beliau juga ingin menunjukkan bagaimana tradisi itu hadir untuk menuntut hak-haknya, melakukan reclaiming pendakuan atas hak hidup dan bersuara, bahwa mereka masih punya hak bicara untuk konteks masa kini. 

Jadi benar menurut Milan Kundera dalam sebuah novel "bahwa perjuangan seseorang melawan yang kuasa adalan dengan perjuangan melawan pelupaan"

Selain itu pendekatan inventory ini juga memungkinkan Gus Dur untuk melcak suara-suara kaum pesantren dalam lembaran-lembaran sejarah resmi, seperti laporan dalam kolonial dalam tulisan sejarawan Belanda maupun Indonesialisme, maupun murid-muridnya di Indonesia. 

Misal laporan-laporan Belanda tentang sarekat Islam, tentang perlawanan Pangeran Diponegoro, tentang relasi pesantren dengan perlawanan petani dan pemberontakan komunis, mobilisasi pesantren di masa penjajah Jepang, dan tentang keterlibatan kaum santri dalam laskar-laskar rakyat di masa revolusi sosial maupun di era revolusi kemerdekaan. 

Seperti laporan-laporan Belanda teantang pemberontakan komunis di tahun 1920-an, studi-studi tentang gerakan petani dan millenarian, beberapa kajian tentang sejarah kota-kota, serta beberapa studi belakangan tentang peranan kiai di era penjajahan dan perjuangan revolusi kemerdekaan.

Yang perlu digaris bawahi di sini adalah pandangan dari pesantren bukan sejedar masalah ekstraksi informasi dari tumpukan arsip dan data. Tetapi juga soal hadirnya memori itu sebagai kekuatan sosial, sebagai ikatan kolektif. 

Ada beberapa factor yang memperkaya pandangan dari pesantren itu sebagai sebuah kekuatan sosial dan ikatan kolektif. Pertama, aktualitas strategi dan siasat-siat tersebut selalu actual dengan seiring pergerakan zaman (ini bagian dari pandangan tentang Zuhruf Zamaniyah\ruang temporer, sezaman). 

Kedua, ruang sosial kolektif pandangan dari pesantren itu, seperti halnya waktu di kalangan pesantren juga muncul kesadaran tentang Zuhruf makaniyah atau ruang lingkup sosial. Ketiga, kekuatan subyektifitas pandangan dari pesantren.

Post a Comment for "Peran Gus Dur Sebagai Pembaharu Pesantren"