Ads 720 x 90

Akar-Akar Manhaj Pemikiran Gus Dur Tentang Pesantren


Penulis: Izzatun Ni'mah

K.H.Aburrahman Wahid atau yang akrab disapa Gus Dur, siapa yang tidak mengenal Beliau. Beliau menjadi presiden ke-empat Negara kita Indonesia yang berasal dari lingkungan pesantren. Beliau adalah cucu dari kiai pendiri Pondok Pesantren Tebu Ireng yaitu K.H. Hasyim Asy’ari. Beliau lahir pada tanggal 7 September 1040 di Kabupaten Jombang, Jawa Timur. Dan wafat pada tanggal 30 Desember 2009 di Jakarta. 

Nama lengkap Beliau adalah Abdurrahman Addakhil

Beliau menjabat menjadi presiden mulai dari tanggal 20 Oktober 1999 hingga 23 Juli 2001. Beliau menggantikan Presiden B.J. habibie setelah dipilih oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat hasil Pemilu 1999. Sebagai seorang presiden, Beliau dapat memandang pesantren melalui kacamata Beliau dari prespektif pemerintahan. Dan juga beliau dapat memandang pemerintahan dari kacamata pesantren.

Akar pemikiran Beliau mengenai manhaji pada tahun 1980-an dapat memengaruhi pada era tersebut, hingga disebut sebagai era “pembaruan Islam”. Dalam kutipannya Beliau memaparkan, “Dalam perkembangan pesantren di negeri kita, terdapat banyak sekali legenda yang harus diteliti secara mendalam, termasuk dengan penelitian lapangan”. 

Dari kutipan di atas Gus Dur memaparkan bahwa perlunya penelitian lapangan mengenai pesantren. Dari pemaparan Beliau yang lain. “Beraneka warna dan berjenis-jenis istilah yang digunakan dilingkungan mereka, baik yang bersifat umum maupun khusus. 

Belakangan ini disebut juga ijazah, konjugasi dari kata Ajaztuka yang berarti kubolehkan engkau mengajarkan/menggunakan suatu hal yang kuberikan kepadamu. 

Seorang Kyai harus dapat memberikan ijazah dalam bentuk doa, di samping ijazah mengajarkan kitab atau literatur yang semula diajarkan. Baik pemberian doa maupun ijin mengajarkan kitab tertentu itu, tentu saja dimulai dan ditutup dengan pembacaan doa oleh sang Kyai, yang diamini oleh para Santri/pengikutnya.

Karenanya, seorang santri seperti saya, dengan bangga akan mengemukakan ia telah mendapatkan ijazah buk atau kitab dari seorang Kyai, yang tentu saja akan disebutkan namanya dengan penuh hormat oleh santri tersebut. 

Umpamanya saja, pembawa makalah ini akan dengan bangga menyebutkan bahwa ia memperoleh ijazah dari Kyai Idris Kamali dari Tebu Ireng, Jombang untuk mengajarkan Al Itqan dari Imam Al-Sayuti yang ditulis abad ke-X Hijriyah/ ke- XVIII Masehi. Ada 25 buah literatur berbahasa Arab yang diperoleh ijin/Ijazahnya oleh penulis setelah bertahun-tahun mengaji di Pesantren. 

Tentu saja selama belajar di Pesantren para santri tidak akan sama memperoleh ijazah literaturnya, karena para Kyai memiliki keahlian yang berbeda-beda pula. KH. A Wahab Chasbullah (Ra’is Am PBNU 1947-1971) yang ahli Ushul F’qh/teori hukum Islam tentu tidak sama dengan adik iparnya, KH. M. Bisri Syansuri (Ra’is Am PBNU 1971-1980) yang adalah ahli Fi’qh sangat terkenal.

Empat belas buah “disiplin pengetahuan agama” Islam yang dipelajari di Pesantren secara tradisional sesuai dengan silabi yang disusun oleh Imam Al-Suyuti dalam Itman Al-Dirayah, merupakan lahan kajian yang memiliki ratusan “buku wajib” (Al-Kutub Al-Mu’tabarah), sehingga tidak mungkin seorang santri pernah membaca/mengaji semuanya. 

Namun, seorang Kyai diharapkan mampu mengajarkan sebuah “buku wajib” untuk tiap disiplin, sehingga ia memiliki kebulatan disiplin-disiplin yang diketahuinya. Namun, kyai tersebut tidak akan mengajarkan semua disiplin yang pernah dipelajarinya. Ia akan memberikan ijazah hanya dalam disiplin-disiplin yang dikuasainya dan dengan demikian ia melakukan “pendalaman bidang” yang diajarkannya. 

Namun ia akan memberikan ijazah atau doa umum yang sama dengan para kyai yang lain dari pesantren-pesantren yang berbeda. Dalam “ijazah umum” itu, ia akan memberikan urutan-urutan para kyai yang mengajarkan “buku wajib” tersebut, yang tentu saja memuat nama guru, hingga kepada pengarangnya. 

Rangkaian nama-nama itu di kalangan Pesantren disebut sebagai “sanad” (mata rantai) ijazah atau “Buku Wajib” tersebut, yang tentunya berbeda dari (walaupun berfungsi sama dengan) Sanad Hadist dari zaman Nabi Muhammad SAW.

Pesantren mengenal istilah pesantren tahunan ataupun pesantren bulanan (lebih dikenal dengan sebutan “pesantren puasa”. Jenis pertama adalah Pesantren yang memberikan pelajaran sepanjang tahun, sedangkan jenis kedua hanya berlangsung selama bulan puasa, seperti halnya dengan Pondok Ramadhan yang disamakan dengan program musim panas (summer program). 

Kedua jenis Pesantren itu, -yang pertama memiliki jangka pendidikan panjang dan yang satu berjangka sangat pendek-, sama-sama memiliki tata nilai serupa yaitu penghormatan kepada guru ketundukan kepada hukum agama dan sama-sama menegakkan tata peribadatan serupa. 

Dengan mengikuti nilai-nilai yang sama itu, dengan sendirinya tata nilai yang dikembangkan dari satu ke lain Pesantren akan melahirkan tata kehidupan yang memiliki persamaan yang kokoh pula. Memang, dalam abad modern ini pesatren juga menghadapi tantangan-tantangan Barat dari proses modernisasi, yang dalam banyak hal berarti “pembaratan” dalam bentuknya yang vulgar.”

Begitulah pemaparan dari Gus Dur, akar-akar pemikiran manhaji Beliau. Yang dapat memengaruhi era perubahan. Gus Dur menjadi tokoh yang tidak dapat dilupakan. Beliaulah tokoh yang mengangkat martabat Pesantren. Tidak hanya itu saja pemikiran Beliau banyak sekali mengenai pluralis, yaitu orang yang memahami keragaman.

Related Posts

Post a Comment

Subscribe Our Newsletter