Ads 720 x 90

Macam-Macam Tawassul Yang Diperbolehkan

Penulis: Khoirun Niswah

Banyak orang yang mengira bahwa Tawassul itu diartikan negatif yang dilakukan oleh warga Aswaja oleh orang yang tidak memahaminya, sering mereka mengatakan bahwa itu termasuk pada golongan yang syirik dan bid’ah Mazmumah, padahal tuduhan yang tidak berdasarkan fakta ilmiah itu dikategorikan tuduhan bohong yang dosanya sangat besar disisi Allah Swt.

Makna tawassul berasal dari وسّل menurut bahasa mempunyai arti mendekatkan diri dengan suatu perantara (wasilah). Dengan demikian wasilah adalah untuk mendekatkan diri kepada yang lainnya atau sesuatu yang untuk menyampaikan agar suatu tujuan dapat berhasil. Salah satu alasan orang suka bertawasul yaitu sudah disebutkan didalam firman Allah dalam surah Al Mu’min ayat 60 dan Al Baqarah ayat 186, bahwa semua yang memohon pasti dikabulkan doanya.

Adapun macam-macam tawasul adalah 
  • Tawasul yang kebolehannya disepakati oleh semua ulama, diantaranya adalah, tawasul dengan asma’ Allah Al husna, sifat-sifat Allah, Al Quran, orang shalih yang masih hidup dan amal salih. 
  • Tawasul yang kebolehannya diperdebatkan dan dipertentangkan oleh para ulama, diantaranya adalah tawasul dengan orang yang sudah mati, baik nabi, wali atau ulama, pangkat (jah) seseorang baik nabi, wali atau ulama, dan lain lain.

Tawassul juga harus digunakan dengan niat yang positif tentunya harus memenuhi kaedah yang berlaku. Dalil yang menganjurkan untuk bertawassul dalam firman Allah Swt.

“ Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan (bertawassullah) untuk mendekatkan diri kepada Nya dan berjihadlah pada jalanNya, supaya kamu mendapat keberuntungan” (QS. Al- Maidah: 35)

Adapun para sahabat Nabi juga mengamalkan Tawassul pada zaman Nabi setelah Nabi Wafat.

Dari Anas bin malik bahwasanya Umar bin khattab ketika menghadapi kemarau panjan, beliau dan para sahabat meminta hujan kepada Allah Swt melalui Abbas bin Abdul Muthalib, lalu Abbas berkata, “ Wahai tuhanku, sesungguhnya kami bertawassul kepada Mu melalui Nabi kami, maka turunlah hujan, dan kami bertawassul dengan paman Nabi kami maka turunkanlah hujan kepada kami, lalu turunlah hujan” (HR. Bukhori).

Dari cerita diatas dapat kita pahami bahwa bid’ah yang dimaksud diatas adalah, tawassul yang tidak langsung dari perentara Nabi, dikatakan diatas juga bahwa bertawassul dengan selain nabi itu diperbolehkan. 

Adapun bertawassul dengan orang yang sudah meninggal juga diperbolehkan, karena menurut ulama Aswaja, bahwa para Nabi, para wali, para Syhada itu hakikatnya mereka tetap hidup dialam kubur, mereka juga dapat mendengarkan pembicaraan orang orang yang masih hidup diatas bumi, jadi mereka dapat menjadi perantara dalam amalan tawassul kepada Allah Swt. Jadi, tawassul bukanlah sesuatu yang baru dan sesuatu yang menyesatkan.

Banyak media untuk bertawasul, antara lain, dengan benda, ruqyah, makhusah (kalimat-kalimat khusus), zat (pribadi seseorang, jah (pangkat), Azan dan Iqamah. 

Demikianlah orag yang betawasul dengan media media tersebut, dihatinya selalu tertancap keyakinan iman kepada Nabi yang paling agung, yang senantiasa ditaati dan dicintainya, begitu juga ketika bertawsul dengan para wali Allah, hatinya tertancap sebuah keyakinan cinta dan taat kepada mereka kekasih Allah.

Dengan media yang lain, obat umpanya, yang ada hanyalah sebuah keyakinan, bahwa yang memberikan kesembuhan adalah Allah semata, obat atau yang lainnya hanyalah sebagai perantara saja. 

Jangankan wasilah atau tawasul, dalam kehidupan sebagai seorang mukmin yang sejati, harus selalu berkeyakinan bahwa bisa bicara, melihat, mendengar, berjalan, bergerak, melangkah, berlari dan seterusnya, semuanya atas pertolongan dan kehendak Allah Swt. Inilah yang menjadi keyakinan muslim Ahlus Sunnah wal Jama’ah.

Sumber Bacaan Nur Sayyid Santosa Kristeva, Sejarah Teologi Islam dan Akar pemikiran Ahlussunnah Wal Jama’ah, Yogyakarta, 2014.
Muhammad Hanif Muslih, Kesahihan Dalil Tawasul Menurut Petunjuk Al Quran dan hadits, Ar Ridha, semarang, 2011.

Related Posts

Post a Comment

Subscribe Our Newsletter