Ads 720 x 90

Islam Nusantara Sebagai Manhaj Kontekstual


Penulis: Adam Muhammad

Ahmad Baso mendefinisikan Islam Nusantara dengan “cara bermazhab secara qauli dan manhaji dalam beristinbath tentang Islam dari dalil-dalilnya yang disesuaikan dengan teritori, wilayah, kondisi alam, dan cara penduduk mengamalkan.” (halaman 21) Nahdlatul Ulama (NU). 


Melalui kegiatan tahlil, shalawatan, halal bi halal, dan sebagainya, Islam Nusatara membuktikan bahwa Islam bisa dikemas dengan cara yang buka Arab. Islam terlahir di Arab, kemudian menyebar ke seluruh dunia, tanpa terkecuali Indonesia. 

Setelah para penyebar Islam datang di Indonesia, mereka menyebarkannya dengan jalan perdamaian. Melalui jalan perdagangan, perkawinan, dan bukan dengan paksaan. Tidak seperti penyebaran Islam di daerah Eropa melalui penaklukan dan peperangan. 

Di masa Wali Songo pula, Islam tersebar dengan cara damai. Untuk menarik hati umat, Wali Songo lebih menampilkan sikap yang lemah lembut. Wali Songo selalu memanfaatkan budaya lokal sebagai sarana dakwah. Misalnya Sunan Kudus yang dengan arsitektur Menara Kudus dan pelarangan menyembelih sapi bisa membuat masyarakat Hindu bersimpati. 

Setelah mendapat perhatian dari orang-orang yang belum Islam, di situlah Wali Songo mudah dalam menjalankan dakwahnya. Dalam kondisi sekarang, Islam tentu menghadapi masalah yang amat pelik. Di antaranya kisruh kekerasan dan jalan dakwah yang radikal. Kelompok-kelompok garis keras masih berkeliaran di muka bumi, terutama di Timur Tengah dengan nama -yang paling terkenal— ISIS. 

Cara dakwah yang sama sekali bertentangan dengan metode dakwah yang dipakai oleh Wali Songo ini justeru merusak citra Islam sendiri. Kemunculan kelompok Islam radikal di Indonesia mengganggu berjalannya Islam Nusantara yang dipegang teguh oleh umat muslim Indonesia. 

Banyak ijtihad ulama Islam Nusantara yang ternyata tidak ditemukan dalam kitab-kitab ulama klasik (salaf), apalagi dalam al-Qur’an dan Hadits. 

Bukan berarti ijthad ulama Nusantara meninggalkan dua asas Islam tersebut, bahkan bertentangan. Yang diambil oleh ulama Islam Nusantara adalah spirit Islam, bukan bentuk luar Islam itu sendiri. Maka, selama bentuk sebuah ibadah sulit diterapkan, budaya lokal yang akan mewadahinya. 

Prinsip yang dipegang Islam Nusantara adalah prinsip al-muhafadhoh alal qadimis shalih wal akhdzu bil jadid al ashlah, menjaga kesalehan yang dahulu dan mengambil hal baru yang lebih baik. Oleh karena itu, Islam Nusantara tidak menjadi kaku dan tetap mempunya ciri khas. 

Islam Nusantara tercermin dalam kehidupan di pondok pesantren, sebagai markas sesungguhnya Nahdlatul Ulama. Jadi sudah seharusnya Islam menjadi air yang ketika ia menempati Nusantara, ia akan berbentuk sesuai wadahnya. 

Islam tidak boleh dipaksakan harus sesuai dengan apa yang dilakukan oleh orang-orang zaman dahulu, pada masa Rasul atau setelahnya. Karena Islam itu salih li kulli zaman wa makan, patut di segala waktu dan tempat. 

Buku ini menjadi penting karena menjelaskan bahwa Islam Indonesia mempunyai sejarahnnya sendiri. Sejarah yang sama sekali berbeda dengan sejarah Islam di Arab dan negara-negara lain. 

Dengan melihat apa yang terjadi pada masa Wali Songo, sebelumnya, bahkan setelahnya, kita akan memahami proses meluasnya Islam di Indonesia sehingga menjadi negara dengan penduduk Islam terbesar di dunia.

Sejarah Islam Nusantara merupakan kajian yang sedikit sulit untuk mendapatkan informasi konkret, literatur, atau sumber-sumber sejarah tentang Islamisasi di nusantara. Sangat sulit untuk menentukan kapan dan di mana Islam pertama kali memasuki nusantara. 

Masalah di mana Islam pertama kali masuk. Ada yang bilang di Jawa, dan ada yang bilang di Barus. Ada dugaan bahwa sejarah Nusantara sengaja dikaburkan oleh para penjajah yang membangun kekuasaan mereka sejak Malaka ditaklukkan oleh Portugis pada tahun 1511 M, kemudian memerintah Ternate pada tahun 1522.

Sejarah Masuknya Islam di Nusantara

Jika kita mencoba untuk menghitung sambil melihat awal dari kendali Portugis atas wilayah Malaka, kemudian Belanda dan Jepang berturut-turut-Menurut kolonisasi nusantara hingga 1945, maka wilayah kami telah dijajah sekitar 434 tahun. 

Seperti apa yang dinyatakan oleh Prof. S. Muhammad Naimar (India) dalam sebuah ceramah yang dikutip oleh Yusuf Abdullah Puar "bahwa bukti dari tangan pertama tentang bagaimana sebenarnya Islam di pulau-pulau ini tidak mungkin diperoleh, tetapi bukti luar menunjukkan bahwa islamisasi di wilayah tersebut Ini telah terjadi sejak awal Islam, mungkin sejak Nabi Muhammad masih hidup.

Ada beberapa versi masuknya Islam di Nusantara, termasuk:
Pendapat pertama dipelopori oleh para sarjana orientalis, termasuk; Snouck Hugronje berpendapat bahwa Islam datang ke Indonesia pada abad ke-13 dari Gujarat (bukan langsung dari Arab) dengan bukti penemuan Muslim pertama Sultan Malik al-Shaleh, raja pertama kerajaan Samudra Pasai dari Gujarat. 

Pendapat kedua diungkapkan oleh para cendekiawan Muslim termasuk Prof. Hamka, yang berpendapat bahwa Islam telah tiba di Indonesia pada abad pertama Hijriah (awal abad ke-7 hingga abad ke-8 M) langsung dari Arab dengan bukti jalur pelayaran yang sibuk dan internasional sudah mulai lama. 

Sebelum abad ke-13 melalui Selat Malaka yang menghubungkan ke Dinasti Tang di Cina (Asia Timur), Sriwijaya di Asia Tenggara dan Bani Umayyah di Asia Barat. Pendapat lain menyatakan bahwa kemungkinan masuknya Islam di Indonesia bersumber dari laporan Cina tentang permukiman Arab di Sumatra utara yang dikepalai oleh orang Arab pada 55 H atau 672 M, hal tersebut dikemukakan oleh Prof. Naquib al-Attas. 

Juned Pariduri juga percaya bahwa di BarusTapanuli sebuah makam diperoleh. tertulis tahun Haa-Miin yang berarti 48 H atau 670 M Dengan demikian, Islam telah memasuki wilayah itu pada 670 M.
Sarjana Muslim kontemporer seperti Taufik Abdullah mengkompromikan kedua pendapat tersebut. 

Menurut pendapatnya, memang benar bahwa Islam telah datang ke Indonesia sejak abad Hijriah pertama atau abad ke 7 dan 8 M, tetapi hanya dianut oleh para pedagang Timur Tengah di pelabuhan dalam skala besar dan memiliki kekuatan politik pada abad ke-13 yang ditandai. oleh pembentukan kerajaan Samudra Pasai. 

Ini terjadi karena aliran kebalikan kehancuran Baghdad di ibukota Abbasiyah oleh Hulagu Khan, dan Asia Selatan, Asia Timur, dan Asia Tenggara.

Dari beberapa pendapat di atas kita mendapatkan deskripsi yang cukup bahwa Islam memasuki kepulauan pada 670 M dengan penemuan makam Islam di Tapanuli, meskipun tidak pasti apakah pada waktu itu komunitas Muslim yang luas dibentuk atau tidak. Lebih jauh lagi, kita masih meragukan kebenaran informasi oleh para orentalis bahwa Islam memasuki kepulauan pada abad ke-13 karena pada saat itu kerajaan Islam didirikan.

Ini berarti bahwa Islam telah berkembang dan pada saat itu misi Kristenisasi para penjajah juga sedang berlangsung, sehingga ada kemungkinan mengaburkan

Sejarah Islam dikepulauan itu. Seiring dengan beberapa pendapat di atas bahwa Islam telah memasuki Indonesia pada abad Hijriah Pertama atau abad ke-7 M tetapi hanya berkembang pada abad ke-13 M. Ekspansi Islam menandai berdirinya kerajaan Islam tertua di Indonesia, seperti Perlak dan Samudra Pasai di Aceh pada tahun 1292 dan pada tahun 1297. 

Melalui pusat-pusat perdagangan di wilayah pesisir Sumatera Utara dan melalui arteri perdagangan di Malaka, Islam kemudian menyebar ke Jawa dan selanjutnya ke Indonesia Timur. 

Dalam hal ini, menurut Mukti Ali, yang sebenarnya menyiarkan Islam di Indonesia, selain memegang ajaran Islam, mudah dipahami juga karena kemampuan pengemban Islam untuk membuat konsesi terhadap adat dan kehidupan yang ada di masyarakat. 

Sementara Prof. Mahmud Yunus memberi lebih banyak detail tentang faktor-faktor mengapa Islam bisa menyebar dengan cepat ke seluruh Indonesia pada awalnya, yaitu:
Agama Islam tidak sempit dan tidak sulit untuk menjalankan aturannya, bahkan mudah dipatuhi oleh semua kelas kemanusiaan, bahkan untuk masuk Islam cukup untuk mengatakan hanya dua kalimat syahadat.

Beberapa tugas dan kewajiban Islam Penyiaran Islam dilakukan secara bertahap dan sedikit demi sedikit. Penyiaran Islam dilakukan dengan cara kebijaksanaan dan cara terbaik. 

Penyiaran Islam dilakukan dengan kata-kata yang mudah dipahami oleh publik. Itulah beberapa faktor yang menyebabkan proses mudah islamisasi di Nusantara, yang pada gilirannya akan menjadi agama utama dan mayoritas di negeri ini. 

Tetapi secara umum, Islam masuk dan berkembang di kepulauan ini melalui kontak dagang, pernikahan, pengkhotbah dakwah. Tentang proses pengembangan masyarakat Islam pertama melalui berbagai kontak. Misalnya, membeli dan menjual, kontak perkawinan dan kontak misionaris secara langsung, baik secara individu maupun kolektif. 

Dari sana semacam proses pendidikan dan pengajaran Islam dimulai, meskipun itu sangat sederhana. Subjek pertama adalah kalimat Shahada. Karena bagi mereka yang memiliki syahadat berarti seseorang telah menjadi seorang Muslim. 

Dengan demikian kita tahu bahwa ternyata persyaratan untuk memeluk Islam sangat praktis, dan dari sana juga pendidikan bergerak, dari yang paling mudah ke yang praktis. Sehingga banyak orang yang tertarik masuk Islam karena tidak membebani ajaran mereka dan sedikit tugas dan kewajiban mereka seperti yang dijelaskan di atas.

Sumber Bacaan
Ahmad Baso, Islam Nusantara

Related Posts

Post a Comment

Subscribe Our Newsletter