Ads 720 x 90

Hati-Hati Bahaya Ideologi Hizbut Tahrir


Penulis: Yos Hadi Saputra

Hizbut Tahrir (HT) adalah sebuah partai politik yang ber-ideologi islam, bukan organisasi ke-rohanian (seperti tarekat), bukan pula lembaga ilmiah ataupun lembaga akademik, dan juga bukan lembaga sosial. HT menganut islam sebagai ideologi dan politik sebagai aktivitasnya.

HT didirikan di Lebanon oleh Syeikh Taqiyuddin An-Nabhani dan masuk pertama kali ke Indonesia pada tahun 1972. Menurut Ismail Yusanto, Jubir Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), cikal bakal HTI berasal dari Yordania. 

HT bertujuan mengembangkan kehidupan islami dan mengembangkan dakwah islamiah keseluruh dunia. Dalam mencapai tujuannya, HT mempercayai sistem kekhalifahan dengan seorang khalifah yang dibaiat oleh kaum muslimin dan harus ditaati. 

Perjuangan HT juga berbahaya karena berusaha agar akidah islam menjadi dasar negara.Seluruh kegiatan yang dilakukan oleh HT bersifat politis dalam arti memperhatikan urusan-urusan masyarakat sesuai dengan hukum dan memecahkannya secara syar’i (hukum islam). Kenapa berbahaya? Sebab menggunakan ideologi politisasi agama dalam mengubah ideologi negara.

Metode yang digunakan HT adalah metode yang diemban oleh Rasulullah. HT beranggapan bahwa umat islam sekarang hidup dalam daarul kufur yang serupa dengan kehidupan di Makkah (sebelum hijrah ke Madinah) pada zaman Nabi. 

Dalam melakukan dakwahnya, HT mempunyai beberapa tahapan yang bahaya sekaligus membahayakan: (1)Tahap pembinaan dan pengkaderan. (2)Tahap berinteraksi dengan umat agar ikut dengan kegiatan dakwahnya (sosialisasi dan merekrut). (3)Tahap pengambilan kekuasaan untuk menerapkan islam secara menyeluruh.

Berikut ideologi yang digunakan oleh Hizbut Tahrir, selain di atas inilah bahaya-bahaya yang dibawa oleh Ideologi Hizbut Tahrir, karenanya kita sebagai umat muslim harus berhati-hati:

Bahaya Pertama, Mengadopsi ideologi mu’tazilah
Pada masa pemerintahan bani Umayyah, lahir gerakan revivalis yang dipelopori oleh Ma’bad bin Kholid Al-Juhani, penggagas ideologi Qadariyah yang berpijak pada penginkaran qadha’ dan qadar Allah. Ideologi ini menjadi embrio munculnya sekte mu’tazilah. Ideologi penginkaran qadha’ dan qadar juga diikuti oleh Taqiyuddin An-Nabhani, perintis HT.

Dalam bukunya, Al-Syakhshiyat Al-Islamiyah (rujukan primer HT) “Semua perbuatan ikhtiyari manusia ini, tidak ada kaitannya dengan ketentuan/qadha’, dan qadha’ juga tidak ada kaitan dengannya, karena manusialah yang melakukannya dengan kemauan dan ikhtiarnya, oleh karena itu perbuatan ikhtiyari manusia tidak masuk dalam lingkup qadha’ Allah.”

Dalam bagian lain buku tersebut Syeikh Taqiyuddin An-Nabhani juga mengatakan “Mengkaitkan pahala dan siksa dengan petunjuk dan kesesatan menjadi dalil bahwa hidayah (petunjuk) dan kesesatan itu sebenarnya termasuk perbuatan manusia dan bukan datang dari Allah.” Pernyataan An-Nabhani tersebut memberikan dua kesimpulan : (1) Perbuatan ikhtiyari manusia tidak ada kaitannya dengan ketentuan/qadha’ Allah. (2) Hidayah dan kesesatan adalah perbuatan manusia bukan dari Allah.

Demikian ini bertentangan dengan Al-Qur’an, sunnah dan akal sehat. Dalam sekian banyak ayat berikut ini : QS. AL-Furqon;2, QS. Ash-Shaffat;96, dan QS. Al-Qomar;49. Beberapa ayat tersebut menegaskan bahwa segala sesuatu diciptakan oleh Allah. Oleh karena itu, dapat kita simpulkan bahwa pernyataan Taqiyuddin An-Nabhani merupakan penolakan terhadap teks-teks Al-Qur’an dan hadits.

Secara rasional, pandangan HT juga tidak dapat dinalar dengan akal sehat. Berdasarkan pandangan HT, bahwa perbuatan ikhtiyari manusia itu adalah ciptaannya sendiri, berarti Allah itu menjadi pihak yang kalah dan tidak berdaya menghadapi hamba-hambanya. Padahal Allah adalah pihak yang selalu menang.

Bahaya Kedua, Pendekatan ta’wil dan ulama salaf
Pendekatan ta’wil terhadap ayat-ayat mutasyabiat telah dilakukan dan diajarkan ulama salaf yang sholeh. Akan tetapi Taqiyuddin An-Nabhani menginkari dan mengatakan bahwa pendekatan ta’wil tidak dikenal dikalangan ulama salaf. Dalam hal ini An-Nabhani mengatakan : “Ta’wil (terhadap ayat-ayat mutasyabihat) merupakan fenomena yang pertama kali dimunculkan oleh para teolog. Jadi ta’wil itu merupakan salah satu unsur dan yang paling membedakan antara mereka dengan salaf.”

Berdasarkan pernyataan tersebut dapat disimpulkan bahwa pernyataan tersebut mengandung kerancuan dan kebohongan. Asumsi HT bahwa dikalangan generasi salaf tidak ada ulama yang ahli dalam bidang teologi adalah tidak benar. Sedangkan asumsi bahwa ta’wil belum pernah dikenal pada masa generasi salaf juga tidak benar.

Bahaya Ketiga, Qadar dan ilmu Allah
Menurut An-Nabhani keimanan dengan qadar Allah hanya terdapat dalam hadits jibril (menurut sebagian riwayat), hadits tentang qadar tergolong hadits ahad yang tidak meyakinkan dan yang dimaksud dengan qadar dalam hadits jibril adalah pegetahuan atau ilmu Allah, bukan qadha’ dan qadar yang menjadi fokus kajian muslimin.

Pernyataan An-Nabhani tersebut dan asumsi bahwa keimanan terhadap qadar Allah hanya terdapat dalam hadits jibril melalui sebagian riwayat adalah tidak benar. Keimanan dengan qadar Allah selain terdapat dalam hadits jibril, juga dijelaskan sekian banyak ayat-ayat Al-Qur’an.

Bahaya Keempat, Kema'shuman para nabi
Menurut Aswaja, setiap muslim harus meyakini bahwa para nabi adalah orang yang ma’shum (terjaga dari perbuatan dosa), baik sesudah diangkat menjadi nabi maupun sebelumnya. Tapi keyakinan ini berbeda dengan keyakinan HT, yaitu meyakini bahwa kema’shuman nabi hanya setelah mereka diangkat menjadi nabi atau rasul. Hal ini bertentangan dengan fakta bahwa nabi Muhammad sudah dikenal dengan gelar Al-Amin (seorang yang dipercaya), tidak pernah bebohong, tidak pernah berkhianat dan selalu menjaga dirinya dari perbuatan tercela sejak kecil.

Bahaya Kelima, Melecehkan umat islam
An-Nabhani beranggapan bahwa umat muslim yang berada diluar HT/tidak berideologi HT adalah umat islam yang keluar dari paham Aswaja dan berpaling dari ajaran Al-Qur’an, hadits dan beranggapan bahwa pendapat sahabat tidak benar dan bertentangan dengan dalil (Al-Qur’an-Sunnah).

Bahaya Keenam, Pengingkaran siksa kubur
Setiap muslim meyakini adanya siksa kubur, namun tidak dengan HT yang menginkari adanya siksa kubur, menginkari kebolehan tawassul dengan para nabi dan orang sholeh, serta peringatan maulid nabi. Penginkaran HT terhadap adanya siksa kubur juga dijelaskan dalam buku Ad-Dausiyah (kumpulan fatwa-fatwa HT). Menurut penjelasan dalam buku tersebut, hukum meyakini siksa kubur yang terdapat dalam hadits adalah haram.

Bahaya Ketujuh, Mengkafirkan kaum muslimin
Sikap yang paling baik dalam menghadapi suatu persoalan adalah sikap moderat, netral, dan tidak berlebih-lebihan. Sikap demikian ini dapat mengantarkan seseorang untuk mengambil keputusan secara bijak dan adil. Namun An-Nabhani menyatakan bahwa orang yang tidak memperjuangkan visi-misi HT tentang khilafah, berdosa besar. Menurutnya juga bahwa apabila khilafah tidak ada, maka islam pun tidak ada dimuka bumi ini. Hal ini, menurut An-Nabhani ketika khilafah tidak ada maka semua orang dimuka bumi dianggap kafir, karena islam sudah mereka anggap tidak ada. Ini adalah statement yang sangat ekstem dan ceroboh.

Sumber Bacaan
Abdurrahman Navis, Muhammad Idrus Ramli, Faris Khoirul Anam; Risalah Ahlussunnah Wal-Jamaah dari Pembiasaan Menuju Pemahaman dan Pembelaan Akidah-Amaliah NU; Khalista Surabaya, Cet.2

Related Posts

Post a Comment

Subscribe Our Newsletter