Gerakan Wahhabi dan Konfrontasinya Dengan Turki Usmani

Penulis: Mawaddah

Muhammad Abdul Wahhab dan Muhammad Ibn Su’ud memulai fase jihad gerakan Wahabi. Dengan pemelukan Ibn Sa’ud terhadap seruan Wahabi, Wahhabisme menjadi ideologi agama yang menyatukan kesukuan.

Dengan semangat meneladani hidup Nabi Muhammad, Ibn Su’ud dan penerusnya melancarkan perang melawan suku-suku di sekitarnya. 

Mereka mulai mengumpulkan kaum Mujahidin dari Dir’iyah keluar batas wilayahnya, dengan tujuan menebarkan dakwah dan pengokohan tiang-tiang agama di Jazirah Arab dan luar Arab. 

Muhammad Abdul Wahhab mempimpin langsung pengumpulan pasukan ini, mulai tahap persiapan hingga pemberangkatan mereka. Meskipun disibukkan dengan pengumpulam pasukan, dia tetap menjalankan dakwahnya mulai dari mengajar hingga mengantar delegasi.

Para pengikut Muhammad ibn Abdul Wahhab dikenal dengan sebutan gerakan/aliran Wahhabi. Pertempuran antara gerakan Wahhabi dan musuh-musuhnya berlangsung dalam waktu lama. Pada tahun 1773 M, Riyadh berhasil ditaklukkan oleh pangeran Abdul Aziz bin Muhammad Ibn Su’ud. Sementara penguasa lama daerah tersebut yang bernama Daham Ibn Dawud melarikan diri. 

Setelah ditaklukkannya Riyadh, maka wilayah yang tunduk berada di bawah pengaruh gerakan Wahhabi dan keturunan Su’ud semakin luas.

Setelah Muhammad Ibn Wahhab meninggal pada 22 juni 1792, perjuangan gerakan wahabi tidak lantas berhenti, justru gerakan wahabi terus meluaskan pengaruhnya. 

Pada tahun 1801, mereka menghancurkan karbala, yang mana daerah tersebut merupakan pusat dari penganut syi’ah. Kemudian, pada tahun 1803 gerakan wahabi mencoba memasuki mekah. 

Dua tahun setelah itu, keturunan Su’ud berhasil menguasai mekah dan madinah.

Wilayah Saudi 1744-1816

Pengaruh gerakan salafiyah ini semakin meluas hingga mereka dapat menguasai kawasan teluk arab sepenuhnya. 

Bahkan pada tahun 1806 M, orang-orang qawasim yang didukung kekuatan pemerintahan Bani Su’ud mampu dan beranin melakukan serangan kepada armada inggris.

Penyerangan ini menyebabkan perairan teluk berada dibawah kekuasaan gerakan wahabi. Pengaruh wahabi juga sampai kewilayah selatan irak yang sanfat berpengaruh dijalan darat yang membentang antara Eropa dan kawasan timur. Melihat kondisi yang demikian, timbul kecemasan dari bangsa Eropa. 

Melihat gerakan wahabi sebagai ancaman yang nyata bagi kepentingan mereka.

Inggris merasa tidak mungkin melakukan kerjasama dengan gerakan wahabi, karena perbedaan asas-asas keagamaan. 

Maka, untuk menghentikan perkembangan dan bahkan menumpas gerakan wahabi, inggris melakukan konspirasi dengan menghasut sultan Mahmud II. 

Mereka mengatakan gerakan Muhammad Ibn Abdul Wahab bertujuan untuk memerdekakan jazirah arab dan memisahkan diri dari pemerintahan Utsmani, serta membangun khilafah arabiyah. 

Sultan langsung merespon fitnah tersebut, dengan menuruti saran-saran untuk memberantas gerakan ini sebelum menjadi besar. 

Meskipun sebenarnya para pengikut gerakan wahabi tidak pernah menuntut khilafah dan tidak pernah menantang bahwa mereka tidsk pernah tunduk padanya.

Pemerintahan Utsmani mengeluarkan biaya besar dan mengerahkan banyak prajuritnya untuk menumpas gerakan ini. 

Maka konfrontasi antara pemerintah utsmani dan gerakan wahabi dimulai dari titik ini. Sultan mulai menugaskan penyelesaian masalah ini kepada gubernur yang bertetangga dengan Saudi. 

Langkah ini bertujuan untuk membendung perluasan wilayah Saudi diwilayah timur dan untuk melemahkan gubernur-gubernur itu. Sehingga mengeruk sumber penghasilan mereka hingga tetap menjadi gubernur yang lemah sehingga terus tunduk pada pemerintah utsmani.

Perintah pertama penyerangan ditunjukkan kepada gubernur Baghdad, karena letaknya yang paling berdekatan dengan Najd. Namun, tentara Baghdad yang terlalu lemah menyebabkan berkali-kali mengalami kekalahan. 

Untuk memebendung serangan diperbatasan Irak, maka pemerintah utsmani segera meminta gubernur Syam untuk melakukan serangan kepada Saudi. Namun, justru kekalahan lebih menyedihkan dialami oleh gubernur Syam.

Ketika pemerintah utsamani mulai putus asa, mereka mengalihkan pandangannya keMesir. Sebelumnya sultan sempat meminta gubernur baru mesir Muhammad Ali Pasya untuk menumpas gerakan wahabi dan mengembalikan jazirah Arabia ketangan Turki Utsmani. 

Namun, permintaan tersebut tidak langsung dipenuhi Muhammad Ali.

Baru pada tahun 1811 M, Muhammad Ali melakukan ekspedisi pertamanya untuk menumpas wahabi. 

Pada tahun 1812 pasukan Muhammad Ali telah berhasil menguasai Hijaz dengan bantuan Ghalib Ibn Musa’id, keberhasilan menguasai Hijaz ini ditanggapi ska cita oleh sultan, ia langsung mengirimkan selebaran ke Mesir yang dibacakan dimesjid, yang menyebutkan haramain telah dikuasai kembali. 

Hal ini menunjukkan sultan sudah sangat puas telah berhasil menundukkan Hijaz, namun tidak bagi Muhammad Ali. Dia melanjutkan serangannya menuju Dir’iyah pusat dari gerakan wahabi, di daerah tersebut pasukan Muhammad Ali yang dipimpin oleh anak pertamanya yang bernama Thusun kalah ketika berhadapan dengan pangeran Abdullah Ibn Su’ud.

Ketika Thusun kalah, maka Muhammad Ali memutuskan langsung keluar menuju Hijaz pada tahun 1813, ketika sampai Hijaz dia justru menangkap Ghalib Ibn Musa’id gubernur Mekah saat itu, dengan tuduhan melakukan konspirasi dengan penguasa Saudi. 

Dengan demikian penguasa Mekah sekarang diisi oleh pejabat Muhammad Ali. Pada bulan januari 1815 M, Muhammad Ali beserta pasukannya memenangkan pertempuran Basal. Kemenangan tersebut membuat jazirah Arab dikuasai oleh pasukan Muhammad Ali dan Utsmani. Sekembalinya Muhammad Ali ke Mesir, Thusun menjadi penguasa Hijaz. Ternyata ekspansi untuk menumpas gerakan wahabi belum berhenti, Thusun bergerak menuju arah utara Najd hingga sampai kota Ras, setelah itu dia menuju Dir’iyah pusat dari gerakan wahabi.

Pangeran Abdullah sempat mengajukan perundingan damai, namun usaha tersebut gagal. Kegagalan tersebut membuat Bani Saud kembali untuk berperang. 

Maka Muhammad Ali mengirimkan kembali ekspedisi militernya yang kedua pada tahun 1816 M, dipimpin oleh anaknya, Ibrahim Pasya . pasukan Ibrahim Pasya dapat mengepung Dir’iyah pada tahun 1818 M, pengepungan ini berlangsung lama mulai April sampai September 1818 M, dan berakhir dengan menyerahnya pangeran Abdullah Ibn Su’ud. Dari Dir’iyah pangeran Abdullah dikirim ke Istambul untuk dihukum pancung. 

Sehingga mengakhiri konflik antara gerakan wahabi dan pemerintah Turki Utsmani. Selanjutnya, selama abad ke-19 Bani Saud bertahan sebagai sebuah kesultanan kesukuan kecil diwilayah pinggiran Arabia.


Sumber :http://wawasansejarah.com/gerakan-wahabi-dan-turki-utsmani

0 Response to "Gerakan Wahhabi dan Konfrontasinya Dengan Turki Usmani "

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel