Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Bid’ah dan Faham Fatalisme: Penyebab Kemunduran Umat Islam

Hampir tidak jauh berbeda pemikiran Rasyid Ridha mengenai pembaruannya dengan para gurunya, yaitu Muhammad ‘Abduh dan Jamaluddin Al-Afghani. Ia juga berpendapat bahwa umat Islam mundur karena tidak menganut ajaran-ajaran Islam yang sebenarnya.

Pemahaman umat Islam tentang ajaran-ajaran agama mengalami kesalahan dan perbuatan-perbuatan mereka dianggap telah menyeleweng dari ajaran Islam yang hakiki. Ke dalam tubuh Islam telah banyak masuk bid’ah yang merugikan bagi perkembangan dan kemajuan umat.

Menurut Rasyid Ridha, di antara bid’ah-bid’ah itu ialah pendapat bahwa dalam Islam terdapat ajaran kekuatan batin yang membuat pemiliknya dapat memperoleh segala apa yang dikehendakinya. 

Bid’ah lain yang ditentang keras oleh Rasyid Ridha ialah ajaran syekh-syekh tarekat tentang tidak pentingnya hidup duniawi, tentang tawakkal, dan tentang pujaan dan kepatuhan berlebih-lebihan pada syekh dan wali.

Umat, demikian menurut Rasyid Ridha, harus dibawa kembali kepada ajaran Islam yang sebenarnya, murni dari segala bid’ah. Islam murni itu sederhana sekali, sederhana dalam ibadat dan sederhana dalam muamalatnya. Yang meruwetkan ajaran Islam, adalah justeru sunah-sunah yang ditambahkan hingga mengkaburkan antara wajib dan sunnah.

Dalam soal muamalah, hanya dasar-dasar yang diberikan, seperti keadilan, persamaan, pemerintahan syura. Perincian dan pelaksanaan dari dasar-dasar ini diserahkan kepada umat untuk menentukannya. Hukum-hukum fiqh mengenai hidup kemasyarakatan, tidak boleh dianggap absolut dan tak dapat diubah. Hukum-hukum itu timbul sesuai dengan suasana tempat dan zamannya.

Terhadap sikap fanatik di zamannya ia menganjurkan supaya toleransi bermazhab dihidupkan. Dalam hal-hal fundamental-lah yang perlu dipertahankan, yaitu persatuan umat. Selanjutnya ia menganjurkan pembaruan dalam bidang hukum dan penyatuan mazhab hukum.

Sebagaimana disebutkan di atas, Rasyid Ridla mengakui terdapat faham fatalisme di kalangan umat Islam. Menurutnya, bahwa salah satu dari sebab-sebab yang membawa kepada kemunduran umat Islam ialah faham fatalisme (‘aqidah al-jabr) itu.

Selanjutnya salah satu sebab yang membawa masyarakat Eropa kepada kemajuan ialah faham dinamis yang terdapat di kalangan mereka. Islam sebenarnya mengandung ajaran dinamis. Orang Islam disuruh bersikap aktif. Dinamis dan sikap aktif itu terkandung dalam kata jihad; jihad dalam arti berusaha keras, dan sedia memberi pengorbanan, harta bahkan juga jiwa. Faham jihad inilah yang menyebabkan umat Islam di zaman klasik dapat menguasai dunia.
Pembaruan Rasyid Ridha dalam Masalah Ijtihad

Sebagaimana Muhammad ‘Abduh, Rasyid Ridla sangat menghargai akal manusia, walaupun penghargaannya terhadap akal tidak setinggi penghargaan yang diberikan gurunya. Akal dapat dipakai dalam menafsirkan ajaran-ajaran mengenai hidup kemasyarakatan, tetapi tidak terhadap ibadah.

Ijtihad dalam soal ibadah tidak lagi diperlukan. Ijtihad (fungsi eksplorasi akal) dapat dipergunakan terhadap ayat dan hadis yang tidak mengandung arti tegas dan terhadap persoalan-persoalan yang tidak disebutkan secara langsung dalam al-Qur’an dan hadits. Disinilah, menurut Rasyid Ridha terletak dinamika Iskam.

Lebih jauh, mengenai ijtihad, Rsyid Ridho berkata :

“tidak ada ishlah (pembaruan) kecuali dengan dakwah, tidak ada dakwah kecuali dengan hujjah (argumentasi yang dapat diterima secara rasional), dan tidak ada hujjah dalam hal mengikut secara buta (taqlid).

Yang mesti adalah tertutupnya pintu taqlid buta, dan terbukanya pintu bagi faham rasional yang argumentatif adalah awal dari setiap upaya ishlah. Taqlid merupakan hijab yang sangat tebal yang tidak disertai ilmu dan pemahaman.

Mengenai ilmu pengetahuan, menurut Rasyid Ridho, peradaban Barat modern didasarkan atas kamajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Ilmu pengertahuan dan teknologi tidak bertentangan dengan Islam. Untuk kemajuan, umat islam harus menerima peradaban barat yang ada.

Barat maju, demikian menurut Rasyid Ridho, karena mereka mau mengambil ilmu pengetahuan yang dikembangkan umat Islam zaman klasik. Dengan demikian mengambil ilmu pengetahuan barat modern sebenarnya berarti mengambil kembali ilmu pengetahuan yang pernah dimilki umat Islam.

Pan-Islamisme

Sebagaimana Al-Afghani, Rasyid Ridho juga melihat perlunya dihidupkan kesatuan umat Islam. Menurutnya, salah satu sebab lain bagi kemunduran umat ialah perpecahan yang terjadi dikalangan mereka. Kesatuan yang dimaksud oleh beliau bukanlah kesatuan yang didasarkan atas kesatuan bahasa atau kesatuan bangsa, tetapi kesatuan atas dasar keyakinan yang sama.

Oleh karena itu, ia tidak setuju dengan gerakan nasionalisme yang dipelopori Mustafa Kamil dimesir dan gerakan naionalisme Turki yang dipelopori Turki Muda. Ia menganggap bahwa faham nasionalisme bertentangan dengan ajaran persaudaraan seluruh umat Islam. Persaudaraan dalam Islam tidak kenal pada perbedaan bangsa dan bahasa, bahkan tidak kenal perbedaan tanah air.

Rasyid Ridho tidak memberikan format yang jelas bagi bentuk kesatuan yang dimaksud. Ia hanya menawarkan kekhalifahan yang sekaligus mengemban fungsi sebagai kepala Negara. Khalifah. Menurutnya, karena mempunyai kekuasaan legislatif maka harus mempunyai sifat mujtahid. Tetapi, khalifah tidak boleh bersifat absolut. Ulama merupakan pembantu-pembantunya yang utama dalam soal memerintah rakyat.

Untuk mewujudkan kesatuan umat itu, ia pada mulanya meletakkan harapan pada kerajaan Utsmani. Tetapi harapan itu hilang setelah Mustafa Kamal berkuasa di Istambul dan kemudian mengahapuskan sistem pemerintahan kekhalifahan. Selanjutnya ia meletakkan harapan pada kerajaan Saudi Arabia setelah raja Abd Al-Aziz dapat merebut kekuasaan di semenanjung Arabia.

Kesamaan dan perbedaan Al-Afghani, Muhammad Abduh dan Rasyid Ridho

1. Kesamaan ketiga tokoh tersebut dapat diidentifikasi sekurang-kurangnya dalam 2 (dua) hal pokok, yaitu :
  • Ketiganya sama-sama menekankan perlunya Islam ditafsirkan secara rasional dan sesuai dengan kebutuhan umat Islam pada zaman tersebut. Mereka memerangi kestatisan umat Islam akibat adanya faham fatalisme dan adanya sikap jumud didalam tubuh umat Islam.
  • Sama-sama menekankan perlunya pembaharuan pemikiran didunia Islam terhadap ajaran Islam itu sendiri untuk mengejar ketertinggalan dari dunia barat, dengan cara mengambil yang baik-baik dari pemikiran eropa tersebut, misalnya metode berfikir rasional yang membawa umat kedalam kehidupan yang dinamis dan dalam mengambangkan institusi-institusi modern. 
  • Untuk kemajuan, umat Islam harus menerima peradaban Barat yang positif. Barat maju karena mereka mau mengambil ilmu pengetahuan yang dikembangkan umat Islam zaman klasik. Dengan demikina mengambil ilmu pengetahuan barat modern sebenarnya berarti mengambil kembali ilmu pengetahuan yang pernah dimiliki umat Islam. 
2. Adapun perbedaan diantara ketiganya, bisa diidentifikasikan kedalam beberapa poin berikut ini :
  • Antara Al-Aghani dan ‘Abduh terdapat perbedaan dalam pendekatan yang digunakan. Dalam melakukan pembaruan, gerakan ‘Abduh lebih bersifat evolusi-mengadakan gerakan secara bertahap (gradual). Sementara gurunya, Al-Afghani cenderung revolusioner.
  • Dalam melakukan islah (pembaruan) Al-Afghani menekankan perlunya perlawanan terhadap otoritarianise dan kolonialisme lewat provokasi. Sementara ‘Abduh menekankan perlunya pendidikan dan latihan bagi masyarakat yang menurutnya lebih penting dari pada sosialisme gerakan politik. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa : “Al-Afghani adalah aktifis yang intelektual, sedangkan ‘Abduh adalah intelektual yang aktifis”. 
  • Adapun perbedaan antara ‘Abduh dan Rasyid Ridho, sebagaimana dikemukakan oleh Harun Nasution (1992), adalah adalah Muhammad ‘Abduh lebih liberal dari muridnya. 
  • Abduh tidak mau terikat pada salah satu aliran atau mazhab yang ada dalam Islam, karena ingin bebas dalam pemikiran. Sebaliknya, Rasyid Ridho masih memegang kuat mazhab dan masih terikat secara kuat pula pada pendapat-pendapat Ibn Hambal dan Ibn Taimiyah. Karenanya, dalam beberapa pemikiran beliau, terdapat persamaan dengan faham wahabiyah. 
Dalam menafsirkan ayat tajassum, misalnya, Muhammad ‘Abduh menafsirkannya sebagai kiasan, sementara Ridho menafsirkannya secara dzahiri sebagaimana juga ketika menafsirkan QS. Al-Baqarah:25-didalam tafsir Al-manar-tentang balasan diakhirat.

‘Abduh menekankan tafsiran filosofis. Tafsiran itu mengandung arti bahwa balasan yang akan diterima diakhirat adalah bersifat rohani. Sedangkan Rasyid Ridho dalam komentarnya lebih menekankan balasan dalam bentuk jasmani dan bukan dalam bentuk rohani.

Namun, yang perlu dicatat, kita mesti berfikir bahwa perbedaan diantara ketiganya justru saling melengkapi. ‘Abduh mencetuskan gagasan yang tidak dilontarkan oleh Al-Afghani dan begitu juga Rasyid Ridho mencetuskan gagasan yang tidak dilontarkan oleh ‘Abduh.

http://www.harjasaputa.com/riset/biografi-dan-ide-ide-pembaharuan-rasyid-ridha-html

Post a Comment for "Bid’ah dan Faham Fatalisme: Penyebab Kemunduran Umat Islam "