Ads 720 x 90

Benarkah Sejarah Islam Nusantara Dipenuhi Mitos Dan Takhayul


Penulis: Alim Ma'ali

Ilmu historiografi islam Nusantara bermula dari kepentingan para ulama untuk menjaga sanad dan silsilah. Yakni sanad dan silsilah untuk menjaga keontentikan tradisi beragama dan keilmuan islam Nusantara dari para ulama generasi salaf hingga Rasulullah. 

Salah satu sarana untuk menjamin terpeliharanya sanad dan silsilah islam nusantara ini adalah bermadzhab seperti yang berlaku pada paham ahlus sunnah wal jamaah. 

Di samping itu disaat bersamaan, mengembangkan satu tradisi keilmuan dari akar nusantara sendiri sangatlah penting agar bisa member kontribusi bagi pemikiran historiografi atau penulisan sejarah di kalangan umat islam.

Kemudian dari sana, para ulama kita mengembangkan satu disiplin keilmuan berkarakter Nusantara tentang pemikiran penulisan sejarah.

Pentingnya historiografi islam Nusantara diperlukan karena bisa dilihat dari perbandingan antara pemikiran hoesein djajajadiningrat dengan ajengan haji mustapa. 

Hosesein djajadiningrat yang melakukan tinjauan kritis terhadap Sajarah Banten. Banyak yang menyebut buku ini menandai masuknya hitoriografi islam nusantara secara rasional-modern sehingga meninggalkan historiografi mitos-mitos dan takhayul. Lebih parahnya buku tinjauan kritis ini terdapat campur tangan orang orentialis bahkan bukan dari orang banten sendiri dalam memahami tradisi orang-orang Banten.

Berbeda dengan posisi Ajengan Haji Hasan Mustafa yang merupakan seorang ulama Priangan yang sudah khatam ilmunya islam nusantara dalam memahami hal hal yang disebut mitos dan taklhayul dalam sejarah Nusantara. Beliau memaknai arti takhayul dalam fungsi pedagosisnya, yakni pada level pendidikan moralnya dan bukan semata-mata sebagai kebenara faktual-hissi (inderawi). 

Seperti contoh dilarang duduk didepan pintu. Hal itu dimaknai dalam rangka menghormati kepada orang yang lewat. Selain itu tradisi slametan yang dilakukan dengan alasan kurangnya air untuk keperluan menggali parit atau membuat danau pada tempat-tempat keramat. Untuk tujuan itu diadakan slametan dan dipahami untuk meundang orang-orang giat bekerja dalam mewujudkan rencana tersebut. 

Dari sinilah sebenarnya ilmu historiografi islam nusantara, kita harus menguasai ilmu kita sendiri, yaitu ilmu dari nenek moyang kita untuk membaca dan mmaknai ilmu kita sendiri. Sebagaimana mengutip pandangan Imam Syafi’i setiap negri punya ilmunya sendiri.

Ilmu historiografi sebagai ilmu bisa dilihat dari tiga aspek, yaitu ontologi, epistemologi, aksiologi. Dari sudut pandang ontologinya, ilmu ini melihat dari dua jenis alam. Yaitu alam ghaib yang yang ditinggali seperti malaikat dan jin (supranatural) dan alam inderawi atau alam fisik yang ditinggail oleh manusia (hissi,natural). 

Akan tetapi manusia juga punya dua alam . yaitu fisikal dan spiritual (ruhi,jiwa) yang dimana pada alam spiritual ini manusia bisa bersentuhan dengan alam ghaib. Ilmu historiografi berbasis pada ontologi dua alam ini karena Nusantara tidak mengenal ateisme dan percaya kepada Tuhan yang sifatnya juga ghaib.

Dalam aspek epistemologinya,ilmu historiografi Islam Nusantara mengenal dua sumber yaitu jiwa (nafs) dan akal (aql). Jiwa digunakan untuk menangkap alam spiritual dan hal-hal yang ghaib atau hal-hal yang belum terjadi. Sementara akal digunakan untuk menangkap dan mencerap hal-hal yang inderawi (eksperimental,tarjibi), yang rasional (aql, burhani), dan hal-hal yang sudah terjadi (hissi, waqi’i). 

Dalam filsafat sejarah menurut Ibnu Khaldun kedua sumber tersebut dipakai untuk mengenal dan memahami hukum-hukum alam dan peristiwa-peristiwa sejarah baik yang berdimensi materil-inderawi maupun yang spiritual sehingga apa yang tidak mampu ditangkap oleh indera dan nalar mansuia bisa ditangkap oleh jiwa batin-spiritual manusia. 

Hal ini bisa dikatakan bahwa fakta-fakta sejarah tidak hanya berlaku pada level inderawi-materil, tapi juga pada level peristiwa-peristiwa spiritual yang tak kasat mata. Selain itu basis epistemologi ini juga penting dalam membaca ramalan-ramalan yang muncul pada penulisan sejarah Nusantara sepeti contoh ramalan tentang “jumhuriyah indonesiyah “ yaitu tentang ramalan masa depan sebagai pengetahuan sejarah ini atau biasa disebut oleh orang “jawa weruh sak durunge winarah”. 

Yakni pengetahuan tentang masa depan atau sesuatu hal sebelum terjadinya. Orang-orang pesantren menyebutnya ilmu kasyaf yang dimiliki orang-orang tertentu dan dipercaya akan kebenaranya. Ibnu Khaldun memasukkanpengetahuan kasyaf ini dalam epistemologi historiografi Islam Nusantara juga sebagai salah satu sumber pengetahuan dalam penulisan sejarah.

Pada level aksiologinya. Ilmu historiografi Islam Nusantara sama dengan penerapan ilmu-ilmu Islam Nusantara lainya. Ranah pengetahuannya mencakup urusan-urusan duniawi yang dialami masyarakat Nusantara sehari-hari, soal ramalan, prediksi dan pengetahuan masa depan, hingga pengelolaan manajemen dan mobilisasi kekuatan spiritual. 

Sebagai contoh untuk pengelolaan manajmene dan mobilisasi kekuatan spiritual ini, kita ambil soal pertemuan seorang tokoh sejarah dengan tokoh dari dunia lain, seperti Nyi Roro kidul. Kkisah ini dimuat dalam teks-teks sejarah mulai dari Babad tanah jawi, serat suryo rojo hingga babad diponegoro. 

Kisah atau plotnya hampir serupa; pertemuan itu diawali dengan permintaan Nyi Roro Kidul kepada sang tokoh untuk menjadi manusia. Akan tetapi hal itu ditolak, dan sang nyai diminta untuk menjadi sebagai makhluk jin dan mengabdi kepada sang khaliq. Sebagai bentuk pengabdian tersebut Nyi Roro Kidul diberi amanah untuk menjaga nusantara. Jadi, isu atau mitos strategis ini adalah pemaknaan akan pentingnya melakukan pembelaan terhadap negara. Selain itu

Soekarno dalam pidato geo-politik Nusantara menyebut filosofi Nyi roro kidul ini sebagai bentuk pentingnya pertahanan bangsa.

Setelah mengetahui ilmu-ilmu historiografi penulisan sejarah Islam Nusantara. Tentu timbul pertanyaan dari mana kita melihat totalitas jiwa-batin rakyat itu dalam penulisan sejarah islam nusantara? Hal ini terlihat dari hakikat dan tujuan menulis sejarah Islam Nusantara seperti yang ditegaskan oleh pijangga santri Kiai Yosodipuro I dalam kitabnya, Serat Lokapala :
“kang sino sjarah ing jawi; lan amarna sajarah ing Arab; datan pae safangate ; samya leluhur; ingkang sinung kamulyan sami”
(menulis sejarah jawi (Nusantara), tertermasuk menulis sejarah Arab ; semuanya sama-sama mengharap syafaat (Nabi) di akhirat, untuk melacak para leluhur dan nenek-moyang kita yang berjasa (kepadanya nusantara ini); mereka berhak untuk itu, karena telah dianugerahi kemuliaan (dalam sejarah).

Kutipan tersebut menunjukkan orientasi kesadaran sejarah bagi penulis sejarah Nusantara yang dibahasakan dalam kalimat apik ngeluri leluhur. 

Kata ngeluri yang dikaitkan dengan kata leluhur diartikan sebagai memeriksa atau menelaah dan mempelajari jejak-jejak rekam para nenek moyang dan juga melaksanakan sesuatu yang telah diberikan contoh teladannya oleh para nenek moyang kita. 

Ngeluri leluhur ini merupakan sebuah terjemahan dari teks hadist yang diamalkan orang-orang pesanren dalam ahlussunnah wal jamaah : “man sanna fil islami sunnatan hasanatan falahu ajruha wa ajru man amila biha” 

(barang siapa memunjukkan satu amalan baru dalam islam dan itu berupa satu amalan yang baik, maka pahalanya akan dilimpahkan kepada orang yang mengamalkannya dan juga kepada orang yang mengikutinya)

Adapun metode dari historiografi Islam Nusantara untuk menguji kebenaran. Orang-orang pesantren memperkenalkan instrument patitis, tabyin, atau tabayu sebagai vertivikasi data-data sejarah. Hal ini sama mirip dengan studi transmisi hadist. 

Khazanah berbagai metode hadis mengkondisikan munculnya berbagai bentuk-bentuk penulisan sejarah hingga berbagai korpus historiografi kaum muslimin di negri Arab dan Persia. Demikian pula itu yang masuk ke Nusantara . dilihat dari ungkapan patitis mardikani, seperti disebut dalam bait Serat Cebloek.patitis berarrti jela, nyata, benar. Sedangkan mardikani berarti orang orang yang bebas, merdeka dan tidak tergantng pada orang lain. 

Patitis dan mardika ini merupakan suatu bentuk cara kerja kritik dan metode vertivikasi data dalam menulis sejarah . seperti yang ditemukan dalam teks syair Alamatul-kiyamat tahun 1814 dan 1866. Teks ini menyebut sumbernya sebagai “huddats mu’tamad” ( para infoerman dan pembawa berita yang bisa dipercaya). 

Demikian pula tulisan-tullisan reportase yangetnografis yang dilakukan oleh Ajengan Haji Hasan Mustafa yang merekam situasi-situasi politik di Aceh masa perang dan hal in dilakukan dari sudut pandang kritik hadis yang akurat.

Sumber Bacaan
Islam Nusantara, Ahmad Baso

Related Posts

Post a Comment

Subscribe Our Newsletter