Tasawuf: Sejarah dan Asal Mulanya


Penulis Ibnu Mas'ud
(Mahasiswa Fak. Ushuludin IIQ An Nur Yogyakarta)

Kata tasawuf dan sufi merupakan kata asing dan aneh yang tidak pernah dijumpai dalam kamus hadits, bahkan tidak pernah muncul pada masa Sahabat Rasulullah.1 Hal ini merupakan suatu kejanggalan, karena pada umumnya istilah-istilah keilmuan Islam disandarkan pada apa yang sudah ada dalam nash Al-qur’an dan Sunnah.

Padahal, tasawuf sudah menjadi lumrah dan masyhur di era ini, hingga bisa dikatakan semua sarjana muslim mempelajarinya, baik yang pro maupun kontra dengan tasawuf. Jika ditarik garis waktu sejarah, istilah tasawuf dan sufi baru populer sekitar abad kedua dan ketiga hijriah. Tokoh pertama yang kemudian disebut sebagai orang pertama yang bergelar sufi adalah Abu Hasyim ash-Shufi (w. 150 H). 

Ia merupakan seorang tokoh zuhud di Bagdad yang dikagumi oleh banyak ulama, termasuk Sufyan ats-Tsauri.2 Bahkan ada temuan lain dari Ibnu Hajar al-Haitami yang menyatakan bahwa Hasan al-Bashri (w. 110 H) pernah bercerita, “Aku melihat seorang sufi di tempat tawaf. Akhirnya aku beri dia sesuatu, tapi ia berkata: Aku punya empat daniq (setengah dirham) yang cukup untuk kebutuhanku”.

Jika demikian, istilah sufi sudah dikenal sejak akhir abad pertama hijriah atau pada masa awal transisi menuju abad kedua hijriah. Berbagai pendapat dikemukakan oleh sarjana-sarjana muslim tentang asal-usul kata tasawuf dan sufi.

Satu pendapat mengatakan bahwa asal penamaan tasawuf disandarkan pada kata “ash-Shuf” yang berarti kain wol yang kasar. Secara bahasa pendapat ini bisa dibenarkan, dalam bahasa arab dikatakan “Tashawwafa ar-Rajul” bermakna “Labisa ash-Shuf”, sama saja seperti “Taqammasha arRajul” yang bermakna “Labisa al-Qamish”. Namun, tidak semua kaum sufi benar-benar memakai kain wol yang kasar sebagai pakaian utamanya.

Kemudian ada juga yang menyatakan bahwa tasawuf berasal dari kata “Shafa” yang berarti suci murni. Pendapat ini tidak bisa diterima secara Bahasa menurut al-Qusyairi. Ada juga yang berkata bahwa asalnya dari kata “Ash-Shaff” yang artinya barisan, menggambarkan bahwa kesucian hati mereka ada di shaf terdepan di antara golongan muslim lainnya.

Secara makna simbolis pendapat ini bisa dibenarkan, namun tidak bisa dipertanggungjawabkan secara bahasa. Beberapa pendapat lain tentang asal muasal tasawuf disandarkan pada Ahl ashShuffah yang merupakan komunitas sahabat Rasulullah dari golongan Muhajirin yang selalu berdiam diri di masjid Nabawi.

Sifat-sifat para sahabat dari Ahl ashShuffah ini sangat khas, seperti sifat zuhud, mementingkan orang lain, tidak banyak bergaul dengan khalayak, tidak terkait dengan kesenangan duniawi, dan hanya mementingkan akhirat. Asal-usul tasawuf dari sudut pandang bahasa memang sangat beragam, termasuk beberapa uraian filosofis yang lahir dari masing-masing kata pembentuknya.

Pandangan menarik tentang tasawuf dikemukakan al-Qusyairi yang menunjukkan bahwa istilah ini muncul sebagai sebutan sebuah era setelah Rasulullah wafat. dalam pembukaan pasal kedua dari kitab Risalatu al-Qusyairiyyah bahwa gelar paling afdal dan mulia yang pantas disematkan pada suatu generasi setelah Rasulullah wafat adalah “Sahabat”. Kemudian orang-orang setelah mereka, yaitu “Tabi’in”.

Kemudian generasi berikutnya, “Tabi’ at-Tabi’in”. Hingga setelah itu ada kelompok orang-orang yang tekun dan bersungguh-sungguh dalam melaksanakan ajaran agama hingga mereka disebut dengan julukan “AzZuhhad” (para ahli zuhud) dan “Al-‘Ubbad” (para ahli ibadah).9 Pada fase ini kemudian muncul beberapa aliran sesat yang mengklaim bahwa merekalah golongan az-Zuhhad dan al-‘Ubbad.

Hal ini kemudian mengilhami kelompok Ahlussunnah wal-Jama’ah untuk membuat istilah tersendiri, yaitu tasawuf untuk menjaga hati mereka dari berbagai jalan yang melalaikan, bahkan menyesatkan.

Beberapa argumentasi dan pendapat diatas tentang tasawuf dan sufi sebenarnya sepakat dan sepaham bahwa makna kata tasawuf itu menyangkut hal-hal batin. Kata kunci yang dijadikan pondasi untuk memahami makna tasawuf kemudian mengarah pada ketekunan ibadah, kesederhanaan hidup, kesucian hati, kearifan, pengetahuan, pengabdian, dan komunitas pilihan.

Sehingga bisa disimpulkan bahwa tasawuf merupakan sebuah cara untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan cara membersihkan dan mensucikan hati dari penyakit-penyakit yang bisa membuat hati menjadi kotor. Seorang sufi menjaga kebeningan hatinya sepanjang waktu agar mudah untuk selalu terpaut dan bergantung pada Allah swt.

Sumber Bacaan
Ahmad Dairobi, Menjadi Sufi Berduit, Sidogiri Penerbit, Pasuruan, 2018
Al-Imam Abu al-Qasim al-Qusyairi, Risalatu al-Qusyairiyyah, DKI, Jakarta, 2011
Kholilurrohman, Mengenal Tasawuf Rasulullah

0 Response to "Tasawuf: Sejarah dan Asal Mulanya"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel