Aswaja dan Ijma’ Ulama Nusantara


Penulis Yugas
(Mahasiswa Fakultas Ushuludin IIQ An Nur Yogyakarta)

Mungkin bagi sebagian orang kata Aswaja sendiri masih terdengar asing. Secara garis besar Aswaja merupakan singkatan dari ahlus-sunnah wal jamaah. Ini adalah paham yang dianut dan diajarkan oleh mayoritas Ulama Islam dari berbagai generasi seperti ulama salaf generasi sahabat dan tabi’in yang dikenal moderat. Untuk menghindari anarki dan kekacauan dalam masyarakat, mereka tetap konsisten menjaga Sunnah Rasulullah dan para sahabat hingga bisa kita warisi hingga saat ini.

Meski dalam sejarah umat Islam banyak terjadi perpecahan dan peperangan dari zaman khalifah hingga bani umayyah, mayoritas umat Islam tetap berpegang teguh untuk tetap solid dan bulat bersatu dalam bingkai jama’ah. Salah seorang tokoh terkemuka pada saat itu adalah Imam Hasan al-Bashri ( wafat 110/728 M ). 

Beliau adalah seorang Imam besar generasi tabi’in yang tinggal di Kota Basrah, menjaga daya tahan masyarakat Islam dari berbagai ancaman fitnah dan perpecahan akibat perseteruan politik dan agama. Alasan ini yang mendasari munculnya sebutan ahlus-sunnah wal jamaah yang kemudian disingkat oleh masyarakat kita menjadi Aswaja.

Apa yang menjadikan Aswaja banyak diminati dan bisa diterima diberbagai strata social dari berbagai latar belakang serta menyerap peradaban dari bangsa mana saja adalah karena terletak pada tradisi bermazhab. Hal ini juga yang mengakarkan Islam hingga diterima di manapun, bisa dipeluk bangsa manapun, karena pendekatan mazhab dalam kesufian maupun tarekat.

Namun, apa jadinya jika konsep Aswaja---yang dibawa bersamaan dengan Islam--- singgah dan menyebar di Nusantara. Apa jadinya jika keduanya dipertemukan, secara, dengan melihat karakteristik agama Islam yang nomatif bersanding dengan Masyarakat Nusantara yang heterogen. Perlu diketahui sebelumnya, bahwa Indonesia pernah menggebrak dunia dengan kerajaan-kerajaan superiornya seperti : Sriwijaya, Majapahit, Malaka, Aceh dan Makassar. 

Kekuatan maritim dan ekonomi Nusantara begitu sangat dahsyat diawal kehadiran WaliSongo. Bahkan ada yang mengatakan bahwa sepertiga perdagangan dunia dikuasai oleh Nusantara. Oleh karena itu, pertemuan antara Islam (konsep Aswaja) dengan Masyarakat Nusantara akan memiliki keunggulan ketahanan dalam mengahadapi tantangan lingkungan dan kultur yang berbeda-beda.

Ketika Islam dan Nusantara digabung atau dipersilangkan, muncullah “bibit” baru yang bernama ISLAM NUSANTARA. Bibit yang akan tumbuh sehat dan mampu bertahan dalam situasi cengkeraman lingkungan manapun, toleran dan adaptif terhadap lingkungannya sehingga bisa tumbuh besar dengan sehat, tidak cepat aus, rusak atau gagal tumbuh. 

Dengan bertemunya dua species berbeda ini, maka diharapkan muncul varietas ataus spesies baru yang memiliki sifat unggulan gabungan dari kedua spesies induknya itu, yaitu populis, kualitas peradaban yang tinggi serta tahan banting terhadap berbagai kondisi dan tantangan alam serta lingkungan. Jadi Islam Nusantara adalah cara bermazhab secara qauli dan manhaji dalam ber-istinbath tentang Islam dari dalil-dalilnya yang disesuaikan dengan teritori, wilayah, kondisi, alam, dan cara pengamalan penduduknya.

Tentu hal ini tidak terlepas dari hasil usaha para Ulama Nusantara yang gencar mendakwahkan Islam. Dengan kepiawaian beliau-beliau menjadikan Indonesia sebagai negara Islam terbesar di dunia padahal Islam bukan berasal dari negara ini. Kepiawaian Ulama Nusantara terlihat dari ketajaman hasil ijma’-ijma’ yang menyesuaikan dengan karakteristik orang Indonesia. 

Dalam penerapan dan pengambilan hukum, para ulama tidak selalu mengambil sesuai dengan teks quran dan hadist (tekstual). hal ini juga yang mendukung kemudahan Islam diterima di Indonesia. Misal ketika mengamalkan perintah zakat fitrah. Ayat quran, hadist dan teks-teks arab berbunyi gandum. Tapi oleh para ulama kita perintah itu diterjemahkan menjadi beras, karena iklim serta situasi kondisi yang berbeda. Begitu juga dengan penentuan hewan qurban. Dengan makna lain, semua yang melekat di Indonesia menjadikan sumber inspirasi bagi para ulama untuk menyumbang warna , suara dan substansi dalam islam.

Keunggulan pengaplikasian ajaran islam yang diselaraskan dengan adat budaya Indonesia oleh para ulama dapat dilihat dari bagaimana mereka menafsirkan Takhayul atau Mitos dalam sejarah Nusantara. Seperti yang ditafsirkan oleh Ajengan Haji Hasan Mustapa dengan menggunakan perspektif Islam Nusantara yang lebih mengedepankan nilai aspek pendidikan moralnya dan bukan merupakan suatu pembenaran factual-­hissi(indrawi). 

Misal, “tidak boleh menduduki bantal karena pamali” itu berisi ajaran moral untuk menghargai tempat kepala kita yang bersandar waktu tidur untuk meraih mimpi indah. Disamping itu, usaha lain adalah sebagai bentuk upaya penyatuan keutuhan masyarakat Indonesia. Sebagai contoh, mitos Nyi roro kidul yang kisahnya banyak dimuat di teks-teks sejarah Nusantara. Plot yang hampir serupa menjelaskan bahwa Nyi Roro Kidul yang meminta untuk dijadikan sebagai manusia yang kemudian permintaannya itu ditolak, dan sang nyai diminta untuk tetap menjadi makhluk jin yang mengabdi kepada Sang Khaliq, kemudian diberi amanah untuk menjaga Nusantara ini. 

Jadi, isu-isu spiritual ini adalah pentingnya pembelaan terhadap negara. Karena itu, Soekarno dalam satu pidatonya tentang geo-politik mengangkat filosofi Nyi Roro Kidul sebagai satu bentuk pertahanan bangsa.

Hadirnya Islam di Indonesia membawa berkah bagi masyarakat. Tidak hanya dalam berakidah, tapi juga dalam kesatuan dan persatuan karena konsep Aswaja sendiri yang menekankan pada titik jama’ah. Secara konsisten mereka menjalankan Sunnah membantu menjaga cara beragama dan islam agar tetap otentik dan tidak melenceng kemana-mana. 

Kata Sunnah yang menunjukan bahwa kita berada diatas ajaran Nabi Muhammad SAW dan berdiri pada ajaran yang benar. Berkat bantuan Ulama-ulama hebat juga hal tersebut bisa terealisasikan dimana ajaran-ajaran nya masih terasa hingga sekarang, bahkan menjadi referensi keilmuan bagi dunia.

0 Response to "Aswaja dan Ijma’ Ulama Nusantara "

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel