Arti dan Posisi Islam Nusantara Sebagai Model Islam Rahmatan Lil Alamin


Penulis: Alfi Nurafika
(Mahasiswi Fak. Ushuludin IIQ An Nur Yogyakarta)

ISLAM memang berasal dari Arab, Nabi pembawanya berasal dari Arab, tetapi islam bukan Arab. Ketika islam sampai ke Nusantara, maka yang digunakan adalah cara berislam ala Nusantara. Antara Arab dan Nusantara jelas memiliki perbedaan-perbedaan baik dari segi manusianya, kebiasaan dan budayanya. Adalah sangat aneh jika umat islam di Indonesia harus berislam dengan seperti islamnya orang Arab.

Nabi dan para sahabat pada masa lalu memelihara jenggot, karna Nabi dan sahabat adalah orang Arab yang secara gennya memang memiliki jenggot, lalu apakah orang Indonesia harus memiliki jenggot sebagai tanda bahwa dia islam? padahal orang Indonesia memiliki ras mongoloid yang tidak berjenggot.

Misalnya, Nabi mensyari’atkan membayar zakat, dan di Arab salah satu zakat yang dikeluarkan adalah kurma dan onta, ketika di Indonesia haruskah umat islam berzakat dengan kurma dan onta sedangkan di Indonesia hanya ada beras dan sapi? Tentu berislam akan menjadi berat jika harus mengikuti islam model Arab, padahal islam adalah agama rahmatal lil ‘lamin. Sebagai rahmat, harusnya memudahkan bukan malah menyulitkan.

Maka dari itulah Indonesia memiliki Islamnya sendiri atau disebut sebagai islam Nusantara yang memiliki ciri khas ke-Nusantara-an yang dilaksanakan sesuai dengan konteks Nusantara. Islam Nusantara memiliki tradisi keagamaan sendiri yang bahkan di Negara asalnya tidak ditemukan tradisi semacam ini. Misalnya tradisi tahlilan pada 7 hari, 40 hari, 100 hari, 1000 hari orang yang sudah meninggal, atau tradisi halal bihalal yang istilahnya menggunakan bahasa arab, tetapi orang arab justru tidak tahu arti halal bihalal itu sendiri.

Meskipun islam Nusantara tidak semurni model islam di Negara asalnya (arab), tetapi islam Nusantara memiliki posisi yang cukup strategis dalam kancah dunia global. Posisi tersebut tentunya tidak lepas dari kontribusi ulama-ulama Nusantara dalam menduniakan islam Nusantara.

Di antara peran ulama’ dalam menduniakan islam Nusantara adalah ulama-ulama yang mendirikan madrasah Darul Ulum di Mekkah pada tahun 1934, pada saat itu madrasah tersebut menjadi kiblat keilmuan bagi pelajar muslim di Mekkah. Madrasah ini didirikan sebagai akibat dari rasa patriotisme yang muncul ketidakterimaan para mahasiswa terhadap seorang guru madrasah shaulatiyah (madrasah yang menjadi kiblat keilmuan anak-anak Nusantara sebelum berdirinya madarasah Darul Ulum) yang mengejek bahasa nasional Nusantara yaitu bahasa melayu, serta mengatakan bahwa orang Indonesia adalah orang yang bodoh-bodoh sehingga sulit melepaskan diri dari penjajahan bangsa asing.

Dari itulah kemudian guru-guru dari Nusantara yang mengajar di madrasah shaulatiyah seperti Syekh Muhsin Al-Musawa (penang), Syekh Zubair bun Ahmad Al-Filfulani (Palembang), syekh Muhaimin bin Abdul Aziz Al-Lasemi (Lasem) kemudian bermusyawarah membentuk madrasah baru yang dinamakan madrasah Darul Ulum. Meskipun pada akhirnya madrasah ini ditutp oleh kelompok wahabi yang menguasai Mekah karna dianggap bertentangan dengan pandangan wahabisme.

Syekh Nuruddin Ar-Raniri juga berperan dalam meninggikan posisi islam Nusantara melalui tulisannya dalam kitab Bustanus salatin. Beliau menempatkan al-jawi sebagai salah satu subyek sejarah dunia dan menempatkan Nusantara dalam kancah sejarah dunia. Dalam pandangan beliau, Nusantara bukanlah objek yang hanya menerima apa yang datang dari luar, tetapi mampu mengembangkan sendiri keilmuan dan peradaban.

Keunggulan posisi islam Nusantara lain ditunjukkan oleh seorang ulama ahli falak dari Bangil, KH.Abdul Mukti Bangil yang pendapatnya dijadikan rujukan dalam penentuan awal bulan dzulhijjah dimana pada waktu itu para ulama Mekah saling berbeda pendapat mengenai awal permulaan buala dzulhijjah sehingga terjadi kesemrawutan pelaksanaan ibadah haji.

Demikian beberapa contoh ulama’ serta perannya dalam menduniakan islam Nusantara, yang sebenarnya masih banyak lagi ulama’ Nusantara yang berperan meninggikan posisi islam Nusantara, selain yang penulis paparkan. Kiranya bisa diambil kesimpulan bahwa islam Nusantara adalah pelaksanaan syari’at islam yang disesuaikan dengan konteks ke-Nusantara-an tanpa meninggalkan kemurnian ajarannya. Nusantara bukanlah objek pasif yang hanya menerima apa yang datang dari luar, melainkan juga mampu mengembangkan dan memberi warna atas keunggulan islam, serta Islam Nusantara memiliki posisi unggul yang diakui oleh dunia.

Sumber bacaan
Islam Nusantara: Ijtuhad Jenius dan Ijma’ Ulama’ Nusantara, Ahmad Baso
Islam Rahmatal Lil Alamin, Gus Muwafiq

0 Response to "Arti dan Posisi Islam Nusantara Sebagai Model Islam Rahmatan Lil Alamin"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel