Ajaran Islam yang Toleran; Memahami Perbedaan Sebagai Sunnatullah


Penulis: Yos Hadi Saputra
(Mahasiswa Fak. Ushuluddin IIQ An Nur Yogyakarta)

Islam rahmatan lil ‘aalamin artinya Islam sebagai agama yang membawa rahmat dan kesejahteraan bagi seluruh alam semesta, termasuk hewan, tumbuhan jin dan sesama manusia. Islam adalah agama yang penuh rahmat karena Islam mengajarkan sikap toleran. 

Tujuan Islam adalah sebagai rahmat bagi seluruh alam yang biasa kita dengar dengan ‘Islam rahmatan lil ‘alamiin’. Islam agama yang mudah dibandingkan agama-agama sebelumnya. Misalkan dalam hal taubat, pada era syariat Nabi Musa, orang bertaubat harus bunuh diri, lalu setelah Rasulullah Muhammad datang bertaubat cukup dilakukan dengan meninggalkan perbuatan buruk dan tidak mengulangi perbuatan tersebut.

Berbangsa-bangsa merupakan sunnatullah. Allah SWT. menciptakan manusia berbangsa-bangsa dengan masing-masing budaya dan ciri khas yang berbeda-beda. Ada yang dari Asia, Afrika, Amerika, Eropa yang masing-masing memiliki ciri khas tersendiri. 

Misalnya, bangsa Arab memiliki ciri masyarakat yang berhidung mancung, berambut keriting, postur tubuh yang tinggi, dsb. Di Eropa masyarakatnya berpostur lebih besar, lebih tinggi dari bangsa Arab, warna rambut kemerahan, dsb. Di Mongol masyarakatnya berkulit putih, postur tubuhnya besar, kuat, dsb. Di Cina masyarakatnya bermata sipit, berkulit putih. Di Afrika masyarakatnya berkulit hitam, rambut keriting, dsb. Dan ada di suatu daerah terdapat masyarakat yang postur tubuhnya kecil-kecil, berhidung pesek, dsb daerah tersebut dominan pada bangsa Indonesia. 

Demikianlah Allah sengaja menciptakan ras yang berbeda-beda, bermacam-macam pada setiap bangsa dengan salah satu tujuannya agar manusia dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan geografisnya.

Toleransi dapat menjadi kunci persatuan umat/bangsa, dengan mentolerir perbedaan bukan menghilangkan perbedaan. Karena perbedaan adalah fitrah dan rahmat. Hal ini diakui dalam Islam sebagaimana disebut secara tegas QS. Al-Hujurat (49);13 : 
“Hai manusia, sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbagsa-bangsa dan bersuku-suku, supaya kamu saling kenal-mengenal.”
Adanya fakta bahwa manusia beragam suku bangsa dan berlatar belakang akan menciptakan banyak perbedaan. Perbedaan diperbolehkan dalam Islam selagi tetap berkomitmen pada prinsip Islam, dalam hal ini adalah aqidah. Sehingga muslim tidak harus hidup dalam satu nama kelompok/organisasi tertentu, tidak harus mengikuti standar gaya berislam kelompok atau ajaran manapun.

Sikap toleran ini termasuk sikap menjauhkan diri dari sekelompok orang yang mudah menghakimi atau mengklaim orang lain atau kelompok muslim lain baik dengan label bid’ah, syirik, dan kafir, yang hanya berdasarkan pendapat sebagian ulama. Kecuali jika semua ulama sepakat atas penilaian tersebut. Yang dimaksud semua ulama adalah mencakup ulama generasi salaf as-saleh (Sahabat, Tabi’in, Tabi.it Tabi’in), ulama fiqih madzhab empat pada generasi awal (al-mutaqaddimiin), maupun ulama kontemporer (al-mutaakhiriin) serta ulama muashir masa kini yang memiliki reputasi sangat baik dibidang keilmuan dan kesalehannya.

Kritik terhadap golongan Islam yang lain tidak dilarang, akan tetapi kritik tersebut memiliki batas-batas etika dan tidak menafikan keislaman mereka. Mengkafirkan sesama muslim haram hukumnya, Nabi SAW. bersabda : 
“Apabila seorang muslim mengkafirkan saudaranya, maka tuduhan itu akan kembali pada salah satunya.” 
Karena apabila kritik tersebut berupa mengkafirkan dan mensyirikkan, maka sama dengan menghalalkan darah sesama muslim. Menghalalkan darah sesama muslim bukan hanya haram, akan tetapi sangat mengancam sendi-sendi persatuan umat Islam. 

Di samping itu mengkafirkan, mensyirikkan, dan membid’ahkan sesama muslim akan mengancam reputasi Islam yang dikenal sebagai agama yang mudah, terbaik, ramah dan moderat.

Islam memiliki misi agama yang membawa rahmat dan kesejahteraan bagi seluruh alam semesta bisa dilakukan dengan sikap yang proposional, adil, moderat, toleran dan bijaksana. Dengan sikap-sikap tersebut misi Islam sebagai rahmatan lil ‘alamiin bisa terwujud. Sikap-sikap ini saling menopang antara satu dengan yang lain. 

Sikap moderat (tawassuth) memiliki arti selalu menjadi penengah dalam berbagai permasalahan, bukan menjadi bagian dari masalah ataupun bagian dari yang menghadirkan masalah. Sikap seimbang (tawazun) bisa didapat dengan selalu bersikap proposional dalam menggunakan berbagai sumber dalil baik dalil naqli (al-qur’an dan hadits) maupun dalil aqli (akal pikiran atau rasional) dan didukung oleh sumber informasi yang akurat. Sikap toleran (tasamuh) dalam wujud menghargai perbedaan, hak orang lain dengan melaksanakan kewajibannya sebagai individu dalam bermasyarakat dan bernegara. 

Sedangkan sikap konsistensi/tegak lurus (ta’adul) memiliki arti bukan sikap menyerah untuk cenderung lemah dalam menegakkan kebenaran dan keadilan. Akan tetapi menuntut sikap bersabar dalam berfikir dan bertindak untuk mewujudkan keadilan dan kebenaran.

Contoh sikap toleransi secara umum antara lain: menghargai pendapat mengenai pemikiran orang lain yang berbeda dengan kita, serta saling tolong-menolong antar sesama manusia tanpa memandang suku, ras, agama, dan antar golongan. Istilah toleransi mencakup banyak bidang. Salah satunya adalah toleransi beragama, yang merupakan sikap saling menghormati dan saling menghargai antar penganut agama lain, seperti: tidak memaksakan orang lain untuk menganut agama kita, tidak mencela atau menghina agama lain dengan alasan apapun, serta tidak melarang ataupun mengganggu umat agama lain untuk beribadah sesuai agama atau kepercayaannya

Sumber BacaanBasyir Fadhullah, Manhaj ASWAJA NU Berakar Tradisi, Merajut Toleransi, dan Menjaga NKRI; Lembaga Dakwah Pengurus Cabang NU Kabupaten Purbalingga
Ahmad Muwafiq, ISLAM Rahmatan lil ‘Alamin; Al-barokah
Ahmad Fatih Syuhud, Ahlussunnah Wal Jama’ah Islam Wasathiyah Tasamuh Cinta Damai; Pustaka Al-Khoirot

0 Response to "Ajaran Islam yang Toleran; Memahami Perbedaan Sebagai Sunnatullah"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel