Sejarah Masuknya Islam di Nusantara Menurut Teori China


Penulis
Anif al minudin

Denys Lombard dalam bukunya nusa jawa: silang budaya memperlihatkan besarnya pengaruh china dalam berbagai aspek kehidupan bangsa Indonesia

Di jawa, dapat di katakan bahwa osmosis berlangsung sangat lama dan sebagai besar unsur Cina lambat laun melebur dengan unsur-unsur lainya. Oleh karena itu, sulit untuk menelusuri sejarah kelompok-kelompak Cina yang pertama. Kaum pendatang mengawini/menikahi prempuan pribumi, dan untuk sebagian mengadopsi adat-istiadat negeri setempat.

Kita telah melihat bahwa abad ke-15 kebanyakan orang Cina yang menetap di pesisir menganut agama Islam dan dapat di pertayakan apakah kata babah yang dewasa ini masih di gunakan untuk menamai lelaki Cina dan yang etimologinya masih bermasalah. 

Bukan sekadar gelar penghormatan yang sangat di kenal di dunia Islam dan di dunia turki khususnya untuk menamai seseorang tokoh, seorang syakh penyebar agama. Setelah penobatan dinasti Qing (1644) dan pengungsian sejumlah pengikut Dinasti Ming kearah laut Cina Selatan, tampaknya masyarakat Cina perantauan mengalami fase pertama pencinaan kembali. 

Orang Belanda menganggap orang Cina sebagai sebuah bangsa tersendiri, dan hal itu turut membuat mereka terkucil. Meskipun demikian, setelah terputusnya hubungan pada tahun 1740 yang menandai perubahan zaman masyarakat Cina perporak-poranda serta bingung, dan munculnya kembali kecenderungan untuk menganut agama Islam. 

Kaum peranakan membangun masjid mereka sendiri, dan terdapat beberapa contoh makam muslim yang nisanya bertulisan Cina. Mungkin yang lebih penting pembesar Cina menerima kebudayaan Jawa dan senang misalnya mengoleksi topeng serta wayang kulit. Ciri itu masih ada sampai kini dan beberapa diantara pakar terbaik terutama di kalangan dosen dalam bidang sastra dan kebudayaan Jawa dahulu hingga sekarang pun keturunan Cina.

Tidak semua orang Cina yang menetap di Jawa mempunyai minat berdagang, banyak di antaranya menjadi petani, pengurus usaha pertanian bangsawan Jawa, atau pachter (pengusaha tanah) pemerintah Belanda. Yang paling kaya membangun tempat tinggal bergaya Cina, mendatangkan guru Cina untuk mengajar anak-anaknya dan berusaha dalam batas tertentu mengirimkan jenazah kenegrinya. 

Namun semangat itu pun menghilang terutama jika keluarganya miskin. Peranakanya yang di lahirkan di Jawa hanya berbicara bahasa ibunya dan hanya sekali-sekali berusaha mempertahankan kesetian budaya, misalnya didalam kesempatan peringatan besar, itu pun tanpa memahami arti pentingnya. Perlu di catat bahwa Batavia jarang ada klenteng yang di dirikan pada abad ke-17 dan ke-18 perbandinganya: 1 di Banten, 13 di Batavia, 1 di Cirebon, 3 di Semarang, 1 di Makassar.

Keadaan itu kemudian mengalami perubahan dratis sejak paro kedua abad-19. Cenderungan asimilasi yang sejak dini merupakan gejala umum selama satu abad merupakan akibat dari tiga perkembangan penting.

Perkembang pertama bersifat ekonomis sekaligus demografis. Pertanian yang berhenti di Cina pada akhir kekausaan Dinasti Qing tidak lagi memberi hasil yang cukup untuk memberi makan penduduk sang terus meningkat jumlahnya. Sementara itu, di Hindia Belanda membudidayakan wilayah baru dan membukaan tambang-tambang baru memerlukan tenaga kerja yang berlipat ganda. 

Itulah gejala emigrasi kuli yang sangat terkenal, terkadang sepontan (misalnya eksploetasi tambang-tambang emas di Borneo oleh bangsa Hakka, dari tahun 1820 hingga 1850), terkadang dikendalikan oleh bangsa Barat yang menggiring para pekerja ke perkebunan mereka. Bangsa Cina yang menetap di Jawa berjumlah 100.000 menjelang tahun 1800 dan menjadi 500.000 pada akhir abad ke-19. Maka dapat dipahami mengapa muncul kesadaran akan identitas mereka sebagai kelompok sendiri.

Di Phnom Penh, di mana kehadiran bangsa Melayu diberitakan sedini abad ke-16 diketahui bahwa Raja Chan (1642-1659) masuk agama Islam dengan mengambil nama Ibrahim. Didorong oleh pengawalnya, orang Melayu dan Campa, ia memerintahkan penghancuran loji Belanda pada tahun 1643 dan memerintahkan agar wakil Batavia, Van Regemortes, dibunuh. Di Ayuthia, pada abad ke-17, terdapat masyarakat Muslim besar yang terutama terdiri dari orang Parsi dan Makassar. 

Pada tahun 1686 datang ke Siam sebuah perutusan dari Syah Sulaiman dari wangsa Shafawi dan sebuah pemberontakan meletus melawam Raja Narai, yang diam-diam di dukung oleh orang Makassar dengan harapan bisa mematahkan seorang putra mahkota yang berkenan pada kepentingan dan agama mereka. usaha itu gagal, sebagian berkat para perwira Prancis yang kebetulan berada di negri itu, kegagalan itu tidak berarti bahwa pengaruh orang muslim telah berakhir. 

Pada akhir abad ke-18, masih berada pada pemerintah Raja Pya Tak yang keturunan Cina, pejabat tinggi yang mengurus hubungan dengan orang asing “berbangsa Melayu, dan menganut sekte muhomet”. Fakta-fakta itu mestinya membuat kita menilai kembali peran agama Islam dalam sejarah Negara-negara buddhis di Asia Tenggara daratan. 

Orang muslim bangsa Siam sekarang berjumlah beberapa juta, dan sesudah peristiwa-peristiwa mutakhir di Indicina, banyak orang Campa dari Kamboja atau dari Vietnam mencari pertolongan pada orang Muslim Malaysia.

0 Response to "Sejarah Masuknya Islam di Nusantara Menurut Teori China "

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel