Sejarah Lengkap Kemunculan Syi'ah


Penulis Ryan Syauqi & Dimas Agung Julianto
(Mahasiswa Fakultas Ushuludin IIQ An Nur)

Sebagai pembanding dan melengkapi artikel Sejarah kemunculan Syiah di muslim.or.id kami membahas Sejarah Lengkap Kemuncula syi’ah secara lebih lengkap dan berbagai sumber.

Syi'ah secara bahasa berarti pengikut, pendukung, partai, atau kelompok. Sedangkan secara terminologi istilah ini dikaitkan dengan sebagian kaum muslim yang bidang spriritual dan keagamaan merujuk pada keturunan nabi Muhammad SAW atau disebut sebagai ahlal bait.

Poin penting dalam doktrin Syi’ah adalah pernyataan bahwa segala petunjuk agama bersumber dari ahlu bait. Mereka menolak petunjuk keagamaan dari para sahabat yang bukan ahlul bait atau para pengikutnya.

Menurut Ath-Thabathaba’i (1903-1981 M), istilah Syi’ah untuk pertama kalinya ditujukan kepada para pengikut Ali (Syi’ah Ali), pemimpin pertama ahlal bait pada masa nabi Muhammad para pengikut Ali yang disebut Syi’ah di antaranya Abu Dzar Alghiffari, Miqdad bin Aswad dan Amr bin Yasir.

Pengertian bahasa dan terminologi di atas hanya merupakan dasar yang membedakan Syi’ah dengan kelompok Islam yang lain, didalamnya belum ada penjelasan yang memadai mengenai Syi’ahberikut doktrin doktrinnya. Meskipun demikian, pengertian di atas merupakan titik tolak penting bagi madzhab Syi’ah dalam mengembangkan dan membangun doktrin-doktrin yang meliputi aspek kehidupan, seperti imamah, mut'ah, dan sebagainya.

Sejarah Kemunculan Aliran Syi’ah

Mengenai munculnya Syi’ah dalam sejarah,terdapat perbedaan pendapat dikalangan para ahli. Menurut Abu Zahrah, Syi’ah mulai muncul pada akhir pada akhir pemerintahan Utsman bin Affan kemudian tumbuh dan berkembang pada masa pemerintahan Ali bin Abi Thalib.

Adapun menurut Watt, Syi’ah baru benar-benar muncul ketika berlangsung peperangan antara Ali dan Muawiyah yang dikenal dengan perang shiffin. Dalam peperangan ini, sebagai respon atas penerimaan Ali terhadap arbitrase yang ditawarkan muawiyah, pasukan Ali diceritakan terpecah menjadi dua, satu kelompok mendukung Ali yang kelak disebut Syi`ah, dan kelompok lain menolak sikap Ali yang kelak disebut Khawarij.

Kalangan Syi’ah sendiri berpendapat bahwa kemunculan Syi’ah berkaitan dengan masalah pengganti nabi Muhammad, mereka menolak khalifah Abu Bakar, Umar bin Khattab, dan Utsman bin Affan karena dalam pandangan mereka hanya Ali bin Abi Thalib-lah yang berhak menggantikan nabi. Kepemimpinan Ali dalam pandangan Syi’ah tersebut sejalan dengan isyarat-isyarat yang diberikan oleh nabi Muhammad SAW pada masa hidupnya.

Pada awal kenabian, ketika Nabi Muhammad diperintahkan menyampaikan dakwah kepada kerabatnya, yang pertama kali menerima adalah Ali bin Abi Thalib. Diceritakan bahwa nabi pada saat itu mengatakan bahwa orang yang pertama-tama memenuhi ajakannya akan menjadi penerus dan pewarisnya.

Bukti utama tentang sahnya Ali sebagai penerus nabi adalah peristiwa ghadir khumm. Diceritakan bahwa ketika kembali dari haji terakhir dalam perjalanan dari Makkah ke Madinah, disuatu padang pasir yang bernama Ghadir Khumm, nabi memilih Ali sebagai gantinya di hadapan massa yang penuh sesak yang menyertai beliau.

Pada peristiwa itu, nabi tidak hanya menetapkan Ali sebagai pemimpin umum umat tetapi juga menjadikan Ali sebagaimana nabi sendiri, sebagai pelindung mereka. Namun realitas ternyata berbicara lain.

Berlawanan dengan harapan mereka, justru ketika nabi wafat dan jasadnya masih terbaring belum dikuburkan, sedangkan anggota keluarganya dan beberapa orang sahabat sibuk dengan persiapan dan upacara pemakamannya, teman dan para pengikut Ali mendengar kabar adanya kelompok lain yang telah pergi ke balai Tsaqifah, tempat umat berkumpul untuk merembug pengganti Rasulullah Muhammad.

Kelompok ini yang kemudian menjadi mayoritas, bertindak lebih jauh dan dengan sangat tergesa-gesa memilih pemimpin kaum muslimin dengan maksud kesejahteraan umat dan memecahkan masalah mereka saat itu. Mereka melakukan itu tanpa berunding dengan ahlul bait, keluarga, ataupun para sahabat yang sedang sibuk dengan upacara pemakaman, dan sedikit pun tidak memberitahukan mereka. Dengan demikian, kawan-kawan Ali dihadapkan kepada suatu keadaan yang sudah tidak dapat berubah lagi.

Berdasarkan realitas itulah, muncul sikap di sebagian kaum muslimin yang menentang ke-khalifahan. Mereka tetap berpendapat bahwa pengganti nabi dan penguasa spiritual yang sah adalah Ali. Mereka berkeyakinan bahwa semua persoalan kerohanian dan agama harus merujuk kepadanya serta mengajak masyarakat untuk mengikutinya. Inilah yang kemudian disebut Syi'ah.

Sebenarnya pendapat Syi’ah yang menyatakan bahwa nabi menunjuk Ali sebagai penggantinya ketika berada di Ghadir Khumm tidak perlu dipertimbangkan secara serius. Peristiwa semacam itu secara intern tidak mungkin terjadi mengingat adanya tradisi di kalangan bangsa Arab untuk menyerahkan tanggung jawab besarnya secara pasti.

Ali tidak bisa hadir di balai Tsaqifah bukan karena tidak diajak oleh Abu Bakar dan Umar, melainkan Ali memahami mutlak (minimal usia 40 tahun ). Orang yang duduk dalam majlis syura adalah orang yang telah berusia diatas 40 tahun.

Sesungguhnya nabi tatkala turun surat bara'ah, mengutus Abu Bakar untuk membacanya di depan khalayak ramai dimusim haji. Kemudian diwahyukan kepada nabi supaya hal itu disampaikan oleh seseorang keluarga nabi sendiri. Maka nabi pun mengutus Ali untuk menjadi pembaca surat bara'ah dan menjelaskan ayat itu.

Pada saat itu nabi Muhammad tidak pernah menukilkan bahwa beliau mendahulukan seorang atas Ali. Adapun Abu Bakar dan Umar, maka sesungguhnya nabi telah mendahulukan mereka dalam dua buah peperangan atas Usamah ibn Zaid satu kali dan Amr bin Ash pada kali yang lain.

Ibnu Khaldun mempunyai pendapat tentang argumentasi orang-orang Syi'ah bahwa, semua itu adalah nash-nash yang mereka nukilkan dan mereka takwilkan menurut madzhab mereka sendiri. Nash-nash itu tidak diketahui oleh ahli-ahli hadits terkemuka dan tidak dinukilkan oleh penukil-penukil syari'at. Bahkan kebanyakan maudhu' atau tercela perawinya atau jauh dari takwil mereka yang keliru itu.

Diriwayatkan oleh Ibnu Hisyam dari Ibnu Abbas bahwa di waktu nabi sedang sakit yang berakhir dengan kewafatannya, Ali keluar dari bilik nabi.

Para sahabat berkata: “Hai abul Hasan, bagaimana keadaan rasulullah pagi ini?"

Ali menjawab "alhamdulillah baik"

Kemudian Abbas memegang tangan Ali dan berkata: “Engkau mengatakan bahwa nabi SAW akan sembuh ? ”

Ali menjawab: “Demi Allah nabi akan wafat. Aku berpendapat bahwa rasulullah akan wafat dari sakitnya itu. Aku tahu bagaimana air muka bani Abdul Muthallib di waktu mereka akan wafat.”

Baik kita pergi kepada nabi untuk menanyakan: “Kepada siapakah diserahkan urusan umat sepeninggalannya? kalau kepada kita, maka kita dapat mengetahuinya. Kalau kepada orang lain, kita dapat menyampaikan rasulullah kepadanya”

Ali menjawab: “Kalau kita bertanya, dan nabi tidak memberikannya kepada kita, maka tentulah masyarak tidak akan memberinya kepada kita, saya demi Allah tidak akan menanyakan hal itu"

Perbedaan pendapat di kalangan ahli mengenai kalangan Syi’ah merupakan sesuatu yang wajar. Para ahli berpegang teguh pada fakta sejarah perpecahan dalam islam yang mulai mencolok pada masa pemerintahan Usman bin Affan dan memperoleh momentumnya yang paling kuat pada masa pemerintahan Ali bin Abi Thalib, tepatnya setelah perang shiffin.

Adapun kaum Syi’ah berdasarkan hadits-hadits yang mereka terima dari ahl al-bait, berpendapat bahwa perpecahan itu mulai ketika nabi muhammad SAW wafat dan kekhalifahan jatuh ke tangan Abu Bakar. Setelah itu, terbentuklah syi`ah.

Bagi mereka pada masa kepemimpinan khulafaur rosyidin, kelompok Syi’ah sudah ada. Mereka bergerak ke permukaan mengajarkan dan menyebarkan doktrin-dokrin Syi’ah kepada masyarakat. Tampaknya Syi’ah sebagai salah satu faksi politik islam yang bergerak secara terang-terangan, muncul pada masa kekhalifahan Ali bin Abi Thalib.

Akan tetapi kemunculan Syi’ah sebagai doktrin yang diajarkan secara diam-diam oleh ahl al-bait muncul setelah wafatnya nabi.

Kemunculan Syi’ah mendapatkan gambaran pengikut yang besar, terutama pada masa dinasti Umawiyah. Hal ini menurut Abu Zahrah merupakan akibat dari perlakuan kasar dan kejam dinasti ini terhadap ahl al-bait.

Di antara bentuk kekerasan itu adalah yang dilakukan penguasa bani umayyah, Yazid bin muawiyah, misalnya pernah memerintahkan pasukannya yang dipimpin oleh ibn ziyad untuk memenggal kepala Husain bin ali di karbal.

Diceritakan bahwa setelah dipenggal, kepala Husain dibawa kehadapan Yazid dan dengan tongkatnya Yazid memukul kepala cucu nabi muhammad SAW yang pada waktu kecilnya sering dicium nabi. Kejadian yang seperti itu menyebabkan sebagian kaum muslim menaruh simpati mendalam terhadap tragedi yang menimpa ahl al-bait.

Dalam perkembangan kemunculan Syi'ah, selain memperjuangkan hak kekhalifahan ahl al-bait dihadapan dinasti amawiyah dan abbasiyah, Syi’ah juga mengembangkan doktrin-doktrinnya. Berkaitan dengan teologi, mereka mempunyai rukun iman, yaitu

  1. Tauhid (kepercayaan kepada keesaan allah)
  2. Nubuwah (kepercayaan kepada kenabian)
  3. Ma`ad (kepercayaan akan adanya hidup akhirat)
  4. Imamah (kepercayaan terhadap adanya imamah yang merupakan hak ahl al-bait), dan adl (keadilan ilahi). 
Dalam enskilopedi islam indonesia, ditulis bahwa perbedaan antara sunni dan Syi’ah terletak pada doktrin imamah. Selanjutnya, meskipun mempunyai landasan keimanan yang sama, Syi’ah tidak bisa mempertahankan kesatuannya.

Perjalanan sejarah kemunculan Syi'ah, kelompok ini akhirnya terpecah menjadi beberapa sekte. Perpecahan yang terjadi di kalangan syiiah, terutama dipicu oleh doktrin imamah. Di antara sekte-sekte Syi’ah adalah itsna asyariah, sab`iah, zaidah, dan ghullat.

Terkait sekte dan perpecahannya akan dilanjutkan pada artikel berikutnya.

Sumber Bacaan
Abdul Rozaq, Ilmu Kalam : Edisi Revisi, Bandung: Pustaka Setia, 2014
Novan Ardy Wiyani, Ilmu Kalam, Brebes: Teras, 2013
Muhammad Hasbi Ash-Shiddieqy, Sejarah dan Pengantar Ilmu Tauhid/Kalam, Semarang: Pustaka Rizki Putra, 2012

0 Response to "Sejarah Lengkap Kemunculan Syi'ah"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel