Prinsip-Prinsip Aswaja ala An Nahdliyyah dalam Manhajul Fikr


Penulis: Nanang Masykuri
(Mahasiswa Ushuludin IIQ An Nur Yogyakarta)

Aswaja (ahl as-Sunnah wa al-Jam’ah) dalam sejarahnya merupakan salah satu aliran teologi Islam. Aliran ini dipelopori oleh Abu Hasan al-Asy’ary pada awal abad 4 sebagai reaksi terhadap paham aliran Muktazilah yang bertolak belakang dalam berakidah dengan apa yang dibawakan oleh Nabi, sahabat, dan tabi’in.

Pada dasarnya aswaja sudah ada sejak zaman Nabi dan para sahabat yang mana ini menujukan bahwa ASWAJA bukan merupakan suatu yang bid’ah (hal baru dalam agama) akan tetapi pada saat itu hal ini belum terkonsep secara sistematis.

Dalam pengamalannya Aswaja lebih kepada prinsip moderat atau tawasuth yaitu mempertimbangkan teks dan konteks. Dan prinsip ini berkembang pada empat pilar pokok Aswaja dalam manhaj berpikirnya yaitu: tawasuth, tawazun, ta’adul, dan tasamuh dalam pengamalannya.

Dengan begitu Aswaja tampil sebagai alternatif dalam setiap persoalan yang timbul. Paham keagamaan ini tersebar lua keberbagai penjuru dunia yang salah satunya Nusantara ini. Dengan perantara dakwah yang dibawakan oleh Wali Songo.

Oleh karena itu di dalam paham ASWAJA ini dengan prinsip-prinsipnya terwujudnya kedamaian dapat tercipta di seluruh dunia.

Kemudian istilah Aswaja dikenal luas di Nusantara ini yang tergambar dalam metode dakwah yang digunakan Wali Songo. Yang kemudian menjadi wajah Islam Nusantara sebagai Islam yang rahmatan lil ‘alamin.

Selain itu Aswaja pada masa sekarang adalah aliran ‘Asyariyah yang menjelma di dalam Tubuh Nahdhotul Ulama (NU) yang didirikan oleh KH Hasyim Asy’ari dan menjadi kelompok mayoritas setelah Muhammadiyah.

Di Nusantara sendiri Islam tersebar luas pada masa Wali Songo. Mereka dalam menyebarkan dakwahnya menggunakan pendekatan kondisi sosial dan budaya masyarakat sekitar, seperti akulturasi budaya dan lainya. Mulai dari situ Islam diterima di Nusantara. Setelah Wali Songo peran dakwah terus berlanjut sampai sekarang yang diwarisi oleh Ulama-ulama kita di Nusantara.

Islam di Indonesia seakan- akan menjadi pusat perhatian dunia baik dari golongan Muslim ataupun Non-Muslim.

Hal tersebut bisa lihat dari kapasitas ulama-ulama kita mulai dari dahulu sampai sekarang. Dan dari sistem serta konsepsi Islam dengan kondisi sosial budaya Indonesia yang majmuk. Seperti NU sendiri yang merupakan salah satu organisasi keagamaan yang sangat patuh dan konsisten dalam menggunakan Aswaja sebagai konsepnya dan menggunakannya dengan sangat baik, sampai NU tidak bisa dilepaskan dengan Aswaja.

Kemudian dengan adanya Aswaja, dalam menjalankan ataupun menerapkan Islam di Nusantara, para ulama tidak selalu tekstual (sesuai teks Qur’an dan hadits) akan tetapi mereka mengambil nilai-nilai yang terkandung didalamnya.

Hal tersebut dilakukan karena melihat kondisi dan situasi masyarakat Nusantara yang bermacam-macam demi terhindarnya perpecahan dan kesusahan. Oleh karena itu para ulama menggunakan metode ber-Ijma’ dalam menyelesaikan persoaln-persoalan yang berkaitan dengan Islam.

Sebagai contoh, didalam NU sendiri ada kegiatan Mukhtamar yang diselenggarakan secara rutin guna bermusyawarah dan membahas masalah-masalah yang belum ada statusnya baik dalah hukumnya atau yang lain.

Dan dengan kegiatan ini menjadi salah satu jalan keluar guna memusyawarahkan segala masalah yang berkaitan dengan ASWAJA maupun Negara. Dengan menggunakan metode Ijma’ yang merupakan salah satu cara yang digunakan ketika tidak ditemukannya hukum atas suatu masalah dalam teks Alquran dan Hadis para Ulama akan berusaha mencari jalan keluar untuk permasalahan tersebut. berikut contoh ijma’ ulama Nusantara bagi Umat Islam Nusantara; menetapkan Indonesia sebagai dar al-Islam, menetapkan pencasila sebagai dasar negara, menetapkan hukum ta’liq talaq´ dan lain sebagainya.

Aswaja sebagai paham keagamaan yang didalamnya mempunyai konsep moderat (tawasuth) haruslah memandang dan memperlakukan budaya secara proposional (wajar) untuk bisa sejalan dengan semangat dakwah Islam Nusantara dan dengan didukung oleh lonsep-konsep lainnya. Dengan begitu nilai ASWAJA dapat melekat disetiap amal sehari-hari tanpa meninggalkan kebudayaan yang telah menjadi warisan leluhur.

Demikian dengan menilik, membaca dan memahami sejarah dan perkembangan maupun perjalanannya sampai ke Nusantara ini bahkan sebagai paham keagamaan yang dipakai di NU Aswaja sangatlah penting guna menjaga, melestarikan dan menghidupkan semangat ke Islaman yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW dan yang akhirnya sampai kepada kita. Dan dengan nilai Aswaja kita bisa menjadi Umat yang mencintai Nabi dan sunnahnya yang dapat membawa kita dekat kepada Allah.

1 Response to "Prinsip-Prinsip Aswaja ala An Nahdliyyah dalam Manhajul Fikr"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel