Perbedaan adalah Rahmat


Penulis: Idzhar Fathoni
(Mahasiswa Ushuludin IIQ An-Nur Yogyakarta)
Pada masa awal Islam, masa Rasulullah SAW. umat bersatu pada pemahaman yang satu, yakni yang dijelaskan dan disampaikan oleh Rasulullah SAW. Pada masa ini, para sahabat diberi otoritas memahami Islam, namun pemahaman mereka harus mendapat legitimasi, atau minimal persetujuan dari Rasulullah SAW. 

Ketika Rasulullah SAW sudah tiada, otoritas memahami dan menjelaskan Islam sepenuhnya berada pada tanggung jawab para sahabat, merekalah tempat umat bertanya tentang ajaran Islam yang terkandung dalam Alquran dan Sunnah. Tugas mulia para sahabat ini terasa sangat berat, karena dalam memahaminya mereka juga harus memilah pesan ajaran tersebut ke dalam berbagai aspek, mulai dari aspek akidah, hukum, sejarah, dan sosial ekonomi.

Adalah sunnatullah, bahwa setiap orang, tidak terkecuali para sahabat, dibekali oleh Allah dengan tingkat dan kemampuan akal yang berbeda, yang menyebabkan kapasitas keilmuan, ketajaman, dan arah analisis yang berbeda pula satu sama lain, maka perbedaan paham dan pendapat di antara mereka wajar terjadi. 

Dengan demikian, secara alami perbedaan hasil pemahaman dan penafsiran terhadap Islam, Alquran dan Sunnah, sudah terjadi di kalangan sahabat, baik saat Rasulullah SAW masih hidup dan setelah beliau wafat.

Perbedaan pemahaman dan penafsiran terhadap ajaran agama telah terjadi di kalangan para sahabat di saat Rasulullah SAW bersama mereka. Namun, perbedaan ini semata-mata disebabkan oleh faktor alami dan logis, karena Allah menciptakan manusia berbeda kemampuan akal dan kualitas pemahaman serta kapasitias keilmuannya. 

Namun, tujuan pemahaman mereka semata-mata untuk mencari kebenaran dan tidak menyebabkan lemahnya akidah atau menimbulkan keraguan terhadap agama yang disampaikan oleh Rasulullah SAW.

Perbedaan di Kalangan Tabi‘in dan Tabi‘ Tabi‘in

Pada generasi ini, para tokohnya sudah berkecenderungan pada corak dan manhaj tertentu dalam komunitas tertentu, yang berpusat di Irak (Kufah dan Bashrah) dan yang berpusat di Hijaz (Madinah). Kelompok Irak dikenal dengan sebutan Ahl al-Ra‘yi, mereka menggunakan qiyas ketika tidak menemukan al-atsar. 

Sedangkan kelompok Hijaz disebut Ahl al-Hadits, yang sangat komitmen berpegang kepada nash, dan tidak berkenan menggunakan qiyas atau ra‘yu. Hal ini merupakan hal yang biasa. Perbedaan atau ikhtilaf di antara mereka tetap tidak keluar dari batas etika ikhtilaf, tidak pernah terjadi saling mengkafirkan, atau menuduh fasik, atau menuduh bid‘ah satu sama lain.

Dengan adanya dua komunitas Tabi‘in kelompok Irak (Basrah dan Kufah) dan komunitas kelompok Hijaz (Madinah) ini kemudian lahirlah para tokoh mujtahidaimmatul fuqaha yang melahirkan mazhab fikih atas nama mereka, yang memiliki manhaj atau metode istinbath masing-masing. 

Mazhab fikih tersebut, khususnya mazhab yang empat yang masih menjadi panduan umat sampai sekarang. Mazhab Hanafi cenderung kepada corak Irak yang menggunakan ra‘yu. Sementara tiga mazhab lainnya, yakni Mazhab Maliki, Syafi‘i, dan Hanbali condong kepada corak Hijaz yang menekankan Sunnah dan Atsar sahabat.

Lahirnya mazhab ini di kalangan tokoh pendiri dan pengikut mazhab merupakan rahmat bagi umat dan sama sekali tidak memisahkan mereka dalam fanatisme mazhab dan golongan. Karena mereka berijtihad dan berbeda demi agama Allah dan rasul-Nya, bukan untuk mencari populeritas diri dan mazhabnya.

Bisa kita lihat dari bagaimana Imam Malik menghormati Imam Abu Hanifah, dan sebaliknya Imam Abu Hanifah mengakui keilmuan Imam Malik. Bagaimana Imam Syafi‘i mengagumi dan memuliakan gurunya Imam Malik, dan sebaliknya, Imam Malik sangat membanggakan muridnya Imam Syafi‘i. Demikian pula, bagaimana Ahmad bin Hanbal sangat menghormati pendahulunya Imam Malik dan Imam Syafi‘i.

Dengan demikian, perbedaan pendapat dalam Islam adalah manfaat untuk saling melengkapi kesempurnaan khazanah pemikiran dalam Islam, bukan untuk kepentingan dan kecenderungan pribadi, apalagi untuk membingungkan dan memisahkan umat dalam mazhab dan golongan, melainkan dengan perbedaan itu menjadi rahmat bagi muslim awam sehingga mereka bisa memilih pendapat yang dapat memberikan solusi pada masalah yang dihadapi sehari-hari. 

Wallahu ‘alam bishawab.
Sumber Bacaan
Aziz Asy-Syinawi, Abdul. 2013. Biografi Empat Imam Mazhab. Jakarta: Ummul Qura’.
Syuhud, A. Fatih. 2017. Ahlussunnah Wal Jama’ah Islam Wasathiyah Tasamuh Cinta Damai. Malang: Pustaka Al-Khoirot.
Ad- Dimasyqi, Muhammad bin ‘Abdurrahman. 2013. Fiqih Empat Mazhab. Bandung: Hasyimi.
Syaikhu. dkk. 2014. Perbandingan Mazhab Fiqih . Yogyakarta: Aswaja Pressindo.

0 Response to "Perbedaan adalah Rahmat "

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel