Kenapa Karakteristik Islam Nusantara Bisa Ramah Moderat dan Toleran?


Penulis Ahmad Fathir
(Mahasiswa Ushuludin IIQ An Nur)

Artikel ini merupakan rangkuman dari berbagai teori masuknya Islam ke Nusantara yang telah ditulis di website jejakaswaja.com

Sebagai agama impor, terdapat beberapa teori yang diajukan oleh para ahli mengenai dari mana, serta bagaimana proses Islam datang ke Nusantara. Ada sedikitnya empat teori yang popular mengenai masuknya Islam ke Nusantara, yakni Persia, Cina, Arab, dan India. Dari masing-masing teori itu, tentu mempunyai alur cerita yang berbeda-beda yang menggambarkan kemungkinan-kemungkinan apa yang sebenarnya terjadi dalam sejarah.

Cukup sulit memang melacak kebenaran sejarah. Jika hanya merujuk pada data-data yang ada dalam buku-buku, itu dirasa kurang cukup untuk membuktikan fakta perjalanan sejarah. Belum lagi adanya bantahan-bantahan dari berbagai ahli yang satu sama lain berusaha mengklaim sebagai yang paling kuat dan paling valid. 

Maka, diperlukan penelitian yang lebih komprehensif melalui berbagai kajian ilmu yang mendukung untuk bisa membuktikan hal-hal yang terjadi dalam sejarah, dan tentunya ini merupakan tugas bagi para ilmuan untuk dapat mengungkap apa yang sebenarnya, atau apa kemunginan yang paling besar terjadi dalam sejarah masuknya Islam ke Nusantara.

Beberapa Ilmuan Indonesia berusaha mengungkapkan sejumlah teori dan data-data yang ada, di antaranya seperti Slamet Mulyana dan Sumanto Al-Qurtuby.

Namun, mereka tidak melanjutkan penelitiannya untuk lebih membuktikan asumsinya agar bisa dipertimbangkan sebagai suatu kebenaran akademik yang dapat dipertanggungjawabkan.

Dalam perkembangan selanjutnya, muncul lah Agus Sunyoto dengan bukunyaa Atlas Walisongo, Cendikiawan asal Surabaya yang turut serta berusaha mengungkap fakta sejarah. Dengan begitu banyak rujukan yang dipakai dan berbagai penelitian yang dilakukan, Ia berusaha mengintregasikan bukti-bukti sejarah berwujud budaya bendawi, kemasyarakatan dan pemikiran ideologis ke dalam sebuah tulisan yang dapat dipertanggungjawabkan.

Dari tulisan yang telah disusun oleh Agus Sunyoto mengenai data-data tentang berbagai teori masuknya Islam ke Indonesia, jika dibaca secara cermat, maka akan ada sedikit banyak gambaran mengenai bagaimana kondisi Nusantara pada masa terjadinya Islamisasi. 

Gambaran-gambaran tersebut diperoleh dari indikasi-indikasi yang tersirat dalam catatan sejarah. Di antara gambaran-gambaran tersebuat adalah:

Pertama. Sejak dahulu kala, Nusantara telah dikenal luas sebagai wilayah perdagangan serta wilayah yang memiliki pelaut dengan skil dan teknologi kemaritiman tingkat tinggi. Hal ini dibuktikan dengan catatan pertama teks-teks Cina bahwa nama Jawa (daerah laut selatan) mulai disebut pada abad ke-5 Masehi. Para penguasa Cina menyebut penduduk yang tinggal di laut selatan dengan istilah “bangsa-bangsa Kun Lun”, yaitu penduduk maritim di Asia Tenggara yang menguasai teknik-teknik kemaritiman tinggi.

Bukti lain adalah pada akhir abad ke-3 Masehi, orang Kunlun (orang-orang Nusantara) yang menjadi anak buah Fahsien melakukan pelayaran dengan kapal besar, yang menurut catatan seorang pegawai daerah Nanking bernama Wan Zhen, menaiki kapal-kapal besar yang panjangnya 200 kaki (65 meter), tingginya 20-30 kaki (7-10 meter), dan mampu dimuati 600-700 orang ditambah muatan seberat 10.000 hou.

Catatan Wan Zhen ini menunjukkan bukti bahwa teknologi kelautan penduduk maritim di laut selatan sudah maju pada abad ke-3 Masehi dan tidak terpengaruh teknologi kelautan Cina. Sebab, pada masa yang sama, jungjung Cina terbesar, panjangnya tidak sampai 100 kaki (30 meter) dan tingginya kurang dari 10-20 kaki (3-7 meter). 

Belum lagi jarak tempuh yang begitu jauh dan badai besar yang mungkin saja datang sewaktu-waktu. Seperti yang telah diketahui, pelayaran orang-orang Nusantara telah sampai ke India, Cina, bahkan dalam penjelasan lain, mampu mengantarkan cengkeh sampai ke Roma. Hal ini menjadi bukti bahwa orang-orang Nusantara benar-benar seorang pelayar ulung, dengan skil dan teknologi kemaritiman tingkat tinggi.

Kedua, Mengingat bahwa datangnya Islam ke Nusantara berasal dari berbagai daerah di dunia, akulturasi kebudayaan pun tidak dapat dipungkiri. Misalnya saja tradisi keagamaan yang dijalankan muslim Champa, seperti peringatan hari kematian ke-3, ke-7, ke-10, ke-30, ke-40, ke-100, ke 1000 setelah kematian seseorang, kenduri, peringatan khaul, takhayul, terbukti mempengaruhi muslim Nusantara yang sampai saat ini masih menjalankan tradisi keagamaan tersebut.

Contoh lain adalah adanya akulturasi pada sastra. Di dalam sastra Islam Nusantara, munculnya pengaruh sastra Persia dan India terlihat pada karya-karya terjemahan berbahasa Persia seperti Wissa-i-Emir hamza (Hikayat Amir Hamzah, mengisahkan kepahlawanan Hamzah bin Abdul Muthalib, paman Nabi Muhammad SAW), dan Wafat Nameh (Hikayat Nabi Wafat).

Berdasarkan dua indikasi yang telah dipaparkan diatas, terbentuklah karakteristik yang khas dalam Islam di Nusantara. Islam masuk dan berkembang di Indonesia mempunyai watak atau karakteristik yang berbeda dengan watak Islam di kawasan lain, khususnya di timur tengah. 

Karakteristik Islam di Nusantara lebih damai, ramah dan toleran. Hal ini tidak lain merupakan pengaruh dari jalur masuknya Islam ke Nusantara, yakni latar belakang Islam Nusantara adalah berasal dari berbagai wilayah di dunia, yang tentunya memiliki karakternya masing-masing sehingga hal itu mempengaruhi terhadap karakter Islam di Nusantara.

Selain itu, dari segi penyebarannya, Islam di Nusantara disebarkan secara damai, berbeda dengan ekspansi Islam di berbagai wilayah Timur Tengah, Asia Selatan dan Afrika yang oleh sumber-sumber Islam disebut fath, yakni pembebasan yang sering melibatkan kekuatan militer, yang akhirnya wilayah ini mengalami arabisasi yang lebih intens.

Perbedaan penyebaran Islam di tanah Arab dengan Indonesia ini disebabkan karena penyebaran Islam di tanah Arab juga dipengaruhi oleh kepentingan politik, yaitu penguasaan wilayah, sehingga dalam beberapa kasus dalam penaklukan wilayah kekuasaan Islam ditempuh dengan jalan peperangan, sedangkan di Indonesia penyebaran Islam pada masa itu tanpa unsur politik. 

Islam dalam batas tertentu masuk di Indonesia melalui pedagang, kemudian dilanjutkan oleh para Guru agama (da’i) dan pengembara sufi. Orang-orang tersebut tidak memiliki motif apapun kecuali untuk menunaikan kewajiban tanpa pamrih.

Dari penuturan di atas, dapat disimpulkan bahwa, Islam di Indonesia mempunyai karakter tersendiri, mengingat begitu panjang proses dan banyaknya pengaruh yang diserap oleh orang-orang pribumi, menjadikannya sebagai karakter yang berbeda dengan wilayah lain. Istilah Islam Nusantara bukanlah sesuatu yang negatif. Bukanlah sebuah Islam yang sekuler. Akan tetapi merupakan Islam yang berasal dari proses akulturasi yang panjang yang terletak di suatu wilayah yang bernama Nusantara.

0 Response to "Kenapa Karakteristik Islam Nusantara Bisa Ramah Moderat dan Toleran?"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel