6 Pendekatan Dakwah Wali Songo Yang Berhasil Mengislamkan Jawa


Penulis Aswal Askah 
(Mahasiswa Fakultas Ushuludin IIQ An Nur Yogyakarta)

Pada artikel sebelumnya, saya telah menuliskan tentang perjalanan Islam masuk ke Nusantara mulai abad ke 8, namun hingga abad 13an Islam belum juga menjadi agama yang diminati di masyarakat Jawa. Jika ada yang belum membaca silahkan dibaca terlebih dahulu.

Hingga Wali Songo datang pada abad 14 dan berhasil mengislamkan Jawa secara mayoritas. Nah, dalam artikel ini, saya akan memberikan penjelasan tentang sistem dakwah Wali Songo yang berhasil mengislamkan Jawa.

Berikut adalah 6 pendekatan dakwah Wali Songo yang berhasil mengislamkan Jawa.

Pertama, pendekatan sosiologis, yaitu membentuk suatu kesatuan di antara seluruh elemen masyarakat di Nusantara.

Islam Nusantara merupakan Islam washatiyyah, Islam moderat, Islam tengah-tengah, ini merupakan perwujudan dari ajaran AllahSWT. Allah SWT memerintahkan Nabi Muhammad agar membangun ‘ummatan wasathan’ (bukan ‘ummatan Islamiyah’ atau ummatan Arabiyyah) agar mampu hadir di tengah-tengah masyarakat dan bisa diterima dengan tangan terbuka tanpa adanya unsur kekerasan dan perbedaan kasta.

Dan yang mampu membangun prestasi besar itu adalah para Wali yang pertama masuk ke Nusantara, yaitu Wali Songo. Mereka melihat bangsa yang berbeda-beda, berkasta-kasta, bersuku-suku, tapi menempati satu kawasan yang sama. Mereka berpikir bagaiman caranya merukunkan suku dan adat yang berbeda-beda. Kemudian mereka berdo’a memohon petunjuk kepada Allah SWT.

Gus Muwafiq di dalam buku Islam Rahmatan Lil Alamin menjelaskan bahwa ulama, terutama wali songo belajar bentuk persaudaraan tanpa ikatan sekat, tanpa perbedaan bangsa dan suku, lalu dijadikan satu, maka dikenallah istilah baru yang sebelumnya belum pernah dikenal, yaitu musyarakah (persekutuan, persaudaraan, saling mengerti, saling bertanggung jawab tanpa memandang suku, tanpa memandang kasta, semua menjadi satu dan saling bersepakat).

Dan kata musyarakah kemudian diserap ke bahasa Indonesia menjadi masyarakat. Begitu sudah menjadi masyarakat, kemudian lahirlah rasa saling bertanggung jawab.

Awalnya yang punya konsep sebesar itu adalah Rasulullah SAW dengan konsep kullukum ra’in wakullukum mas’ulun an raiyyatihi (setiap dari kalian adalah pemipin, dan tiap-tiap pemimpin akan dimintai pertanggung jawaban atas yang dipimpinnya).

Dari sini masuklah kata rai’yah, yang kemudian diserap ke dalam bahasa Indonesia yang dikenal dengan sebutan ‘rakyat’. Satu-satunya bangsa Islam di dunia yang sanggup mengambil kata ra’iyah untuk menyebut bangsanya adalah ulama Nusantara.

Kedua, Pendekatan kultural, yaitu Islam dibangun menyesuaikan kebudayaan setempat.

Islam yang ada di bumi Nusantara bukanlah aliran, bukan sekte, bukan mazhab, akan tetapi merupakan khashais wa mazayat (kekhususan dan keunikan), tipe dan karakter Islam yang dianut oleh masyarakat Nusantara adalah Islam yang ramah, santun dan moderat.

Karena islam yang ada di Nusantara adalah agama yang dibangun di atas budaya, selama budaya itu tidak bertentangan syariat, kita rawat, dan kita lestarikan. Bahkan agama Islam sendiri berdiri di atas infrastrukur budaya, yang artinya salah satu alat penyebaran agama adalah dengan menggunakan budaya yang telah mengakar di hati masyarakat Nusantara pada masa itu.

Sehingga budaya menjadi fondasi agama, maka dari itu keduanya saling menguatkan. Budaya lestari, Islam menjadi semakin kuat. Seperti dalam pepatah “Islam masuk dengan cara membaur, bukan melebur”.

Karena para Wali menyebarkan Islam dengan cara menghormati budaya, bahkan menggunakan budaya sebagai media dakwahnya, itulah sebabnya penduduk Nusantara berbondong-bondong masuk Islam dalam kurun waktu kurang lebih 50 tahun, yakni dari tahun 1450-1500-an tanpa peperangan, tanpa darah, tanpa kekerasan.

Penghormatan Islam pada budaya Nusantara membuat Islam bisa berdialog secara positif dengan kondisi sekitarnya. Di setiap tempat di Indonesia, selalu ada agama mayoritas dan minoritas, tetapi mereka tetap damai, bersatu, bertoleran dan saling menghormati sebagai saudara satu bangsa. Itu karena Islam yang tumbuh di Nusantara ini adalah Islam yang berbudaya, berperadaban, Islam yang toleran, damai, yang perinsipnya adalah solidaritas sesama umat Islam (ukhuwah Islamiyah), sesama bangsa Indonesia (ukhuwah wathaniyah) dan sesama manusia (ukhuwah insaniyah).

Prinsip hidup yang saling menghormati dan persaudaraan menjadi salah satu landasan mengapa Islam di Nusantara merupakan agama yang menjadi mayoritas karena sesuai dengan sifat dan budi pekerti yang tertanam sejak dulu di batin orang-orang Indonesia.

Ketiga, Dakwah dengan melalui cara-cara yang damai dan tutur bahasa yang baik

Gerakan dakwah Wali Songo menunjuk pada usaha-usaha penyampaian dakwah Islam melalui cara yang damai, terutama melalui prinsip maw’izatul hasanah wa mujadalah billati hiya ahsan yaitu metode penyampaian ajaran Islam melalui cara dan tutur bahasa yang baik.

Dewasa itu ajaran Islam dikemas oleh para Wali sebagai ajaran yang sederhana dan dikaitkan dengan pemahaman masyarakat setempat atau Islam yang ‘dibumikan’ sesuai adat dan kepercayaan penduduk setempat melalui proses asimilasi dan sinkretisasi.

Pelaksanaan dakwah dengan cara ini memang membutuhkan waktu yang lama, tetapi berlangsung secara damai.

Tapi perlu digaris bawahi bahwa yang dimaksud dengan ‘agama Islam yang dibumikan’ bukan dimaksudkan sebagai upaya ‘jawanisasi’, juga bukan upaya ‘sinkretisme’ yang mencapuradukan agama dengan budaya sehingga bisa menghilangkan sifat-sifat asli agama.

Oleh Karena itu, pribumisasi Islam bukan upaya meninggalkan norma agama demi budaya, apalagi dimaksudkan untuk merubah Islam itu sendiri, tapi dengan tujuan agar Islam dipahami dengan mempertimbangkan factor-faktor kontekstual dan bagaimana agar kebutuhan lokal dipertimbangkan dalam merumuskan hukum agama, tanpa mengubah hukum itu sendiri.

Keempat, Pendekatan lewat asimilasi pendidikan

Usaha pengembangan dakwah Islam yang dijalankan Wali Songo yang tidak kalah penting adalah usaha mengembakan pendidikan model dukuh, asrama, dan padepokan dalam bentuk pesantren-pesantren yang sebenarnya merupakan pengambil alihan bentuk pendidikan sistem biara dan asrama yang dipakai oleh para pendeta dan bhiksu dalam mengajar dan belajar.

Dan juga proses pendidikan secara terbuka kepada masyarakat-masyarakat lewat langgar, masjid-masjdi dan permainan anak-anak. Usaha-usaha tersebut menunjukan hasil yang menakjubkan, karena selain ajaran-ajaran yang diterapkan oleh para pendeta dan bhiksu-bhiksu yang sebelumnya yang hampir sama dengan ajaran syariat Islam, seperti tatakrama terhadap orang tua dan guru, serta larangan dalam mengonsumsi makanan-makanan yang tidak suci, haram, dan yang menjijikan.

Menjadikan ajaran Islam yang disampaikan mudah untuk diterima dan diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari karena tidak bertentangan dengan apa yang selama ini mereka pahami.

Kelima, pendekatan lewat kesenian

Seni pertunjukan yang potensial menjadi sarana komunikasi dan transformasi informasi kepada publik, terbukti dijadikan sarana dakwah yang efektif oleh Wali Songo dalam usaha penyebaran berbagai nilai, paham, konsep, gagasan, pandangan dan ide yang bersumber dari agama Islam.

Dari sini, lahirlah bentuk-bentuk baru dari kesenian hasil asimilasi dan perombakan dari kesenian yang lama menjadi kesenian tradisional khas yang memuat misi ajaran Islam.

Pada masa Majapahit, seni pertunjukan umumnya berkaitan dengan fungsi-fungsi ritual yang mengacu pada nilai-nilai budaya agraris yang berhubungan dengan kegiatan kegamaan Hindu-Budha.

Dalam konteks memosisikan seni pertunjukan wayang pada kedudukan semula, yaitu seni pertunjukan yang bersifat spiritual dengan sejumlah upacara ritual yang khas, Wali Songo melakukan pengambilalihan seni pertunjukan ini dengan sejumlah penyesuaian yang selaras dengan ajaran tauhid dalam Islam.

Keenam pendekatan kelembagaan, yaitu membangun hubungan dakwah dengan pejabat-pejabat yang berpengaruh

Tidak semua dari wali songo berdakwah di masyarakat secara langsung, tapi ada juga yang berdakwah di pemerintahan. Mereka ikut serta mendirikan kesultanan dan aktif di dalamnya, sehingga mereka memiliki pengaruh besar di kalangan bangsawan, birokrat, pedagang, dan kalangan elit lainnya.

Hal ini dimaksudkan agar Islam lebih mudah menyebar ke seluruh masyarakat, karena kebanyakan masyarakat di masa itu patuh dan taat kepada pemimpin-pemimpin mereka. Maka dari itu dibentuklah hubungan dakwah dengan para petinggi-petinggi atau pemimpin pada masa itu.

Sumber Bacaan
KH. Ahmad Muwafiq, Islam Rahmatan Lil Alamin, Albarokah 2019

0 Response to "6 Pendekatan Dakwah Wali Songo Yang Berhasil Mengislamkan Jawa"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel