5 Pokok Ajaran Abu Hasan al-Asy'ari


Penulis Alwi Ridwan Hidayat

Pada artikel sebelumnya telah ditulis tentang konflik perpecahan umat Islam diawali dari perbedaan secara politik, peristiwa tahkim tersebut menjadi embrio perpecahan yang mengakibatkan pergeseran cara pandang politik melebar sampai pada level teologis.

Pergeseran tersebut lalu memunculkan aliran-aliran dan pemikiran teologis mulai dari khawarij, murji'ah, qadariyah, jabariyah hingga muktazilah. Artikel ini akan membahas sekelumit tentang pemikiran teolog ternama Abu Hasan al-Asy'ari.

Abu Hasan al-Asy'ari mempunya nama lengkap Abu al-Hasan Ali bin Ismail bin Abi Bisyr Ishaq bin Salim bin Ismail bin Abdullah bin Musa bin Bilal bin Abi Burdah Amir bin Abu Musa Abdullah bin Qais al Asy’ari lahir pada tahun 260H/873M di kota Basrah dan wafat pada tahun 324 H/935 M.

Beliau memiliki kapasitas intelektual yang tinggi terlihat dari sikap gurunya yang sering mempercayakan kepadanya untuk mengajarkan paham Muktzilah, manakala guru beliau, yakni Al-Juba’i sedang berhalangan untuk mengajar.

Motif yang mendorong Al-Asy’ari berpindah aliran dari Muktazilah ke aliran salaf, terdapat beberapa versi. Pertama, ketidakpuasan Al-Asy’ary atas jawaban Al-Juba’i berkaitan dengan keadilan Tuhan yang diukur dengan menggunakan batas-batas akal manusia. 

Kedua, karena memeroleh petunjuk dari Nabi Muhammad SAW lewat mimpi, intinya Nabi memerintahkan kepada Al-Asy’ari untuk kembali berpegang pada ajaran Alquran dan sunnah Rasul.

Al-Asy’ari memiliki pandangan teologi sendiri yang berbeda dengan paham Muktazilah. Pemikiran yang dimiliki lebih condong kepada pandangan ahlusunnahwaljama’ah. Berikut ini pokok-pokok pandangan Al-Asy’ari
  1. Alquran sebagai kalam Allah SWT. Pandangan ini muncul sebagai bentuk penolakan terhadap golongan yang berpendapat bahwa Alquran diciptakan Allah, oleh karena itu maka ia adalah makhluk.
  2. Tuhan memiliki sifat. Dari beberapa ayat Alquran disebutkan bahwa tuhan itu alim, maha mengetahui dengan pengetahuannya. Bukan dengan Zat-Nya, dan mustahil tuhan itu adalah pengetahuan.
  3. Perbuatan Tuhan dan teori kasb. Berbanding terbalik dengan pendapat Muktazilah berkaitan dengan perbuatan Tuhan. Menurut mereka Tuhan itu Maha Adil, sehingga Tuhan harus berbuat adil terhadap makhluk. 
  4. Al-Asy’ari menetapkan teori “kasb” untuk menjelaskan hubungan antara perbuatan Tuhan dengan perbuatan manusia. Dalam kitab Al-Luma’ karya beliau, kasb adalah sesuatu yang timbul dari yang berbuat (Al-Muktasib) dengan perantara daya yang diciptakan.
  5. Konsep tentang iman. Imam Al-Asy’ary berpendapat bahwa iman itu berkaitan dengan ucapan dan perbuatan yang kadarnya bisa bertambah dan berkurang. Beliau mengakui bahwa amal salih itu mampu membina kualitas keimanan seseorang untuk sampai pada kesempurnaannya.
Pada saat Al-Asy’ari dihadapkan dengan masalah pendosa besar, seperti para pelaku zina, pencuri dan peminum arak, berpendapat bahwa mereka tidak dapat dikatakan kafir selama mereka masih menyakini bahwa apa yang dilakukan adalah perbuatan yang diharamkan. 

Tetapi, karena yang mereka lakukan itu bertentangan dengan keyakinannya maka Al-Asy-ari menyebutnya sebagai orang fasik.

Sumber Bacaan
A Fatih Syuhud, Ahlussunnah Wal Jama'ah Islam Wasathiyah Tasamuh dan Cinta Damai, Pustaka Alkhoirot, 2019

0 Response to "5 Pokok Ajaran Abu Hasan al-Asy'ari"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel